Wednesday, 1 March 2023

Apa kabar disertasi? (1)

Jadi, saya sebenarnya malu kalau ditanya tentang disertasi. Jengkel juga. 

Bukan, bukan jengkel ke si penanya, saya jengkel ke diri sendiri (tapi tidak jengkel juga sih).

Sebenarnya saya sudah acc untuk segera menulis Bab 1. Sesuatu yang harusnya gampang dilakukan wong bahan juga sudah lengkap kap. 

Ya memang belum melakukan review menyeluruh, tapi masih bisa dilakukan kok. Artikel juga tidak sampai ratusan. Sesuatu yang pernah hanya butuh waktu sekian hari saja melakukannya. 

Fisik saya masih kurang bersahabat. Saya masih harus banyak-banyak tinggal di rumah. Tidak bisa kena angin, dan sebagainya. 

Pertanda baik tentu saja (amiin), karena itu artinya si bayi sedang baik-baik saja dan bertumbuh (aamin). 

Dulu saya pikir, hamil dan mengerjakan disertasi adalah hal yang bisa kita lakukan bersamaan. Nyatanya tidak ya 😅 

Sayanya yang bodoh dan tidak belajar dari masa lalu memang. Dulu pun saya pikir saya bisa sekolah lagi sambil ngasuh anak. Nyatanya, ya tidak bisa juga 😅

Anyway, jadi ini bukan yang pertama, sehingga saya, diri saya, harusnya paham. Tidak semua rencana berakhir sesuai rencana. Dan itu tak apa. Sedikit polesan dan tambalan di sana sini juga tidak apa. Ya, namanya juga hidup kan. Kalau enak terus, mungkin justru itu artinya kita ngga hidup. Hahaha

Anyway (lagi), jujur sebenarnya tadi saya pengen sambat. Tapi entah kenapa saya justru jadi bijak gini ya.. hahahaha.

Alhamdulillah.

Ya sudahlah, semoga minggu depan fisik semakin membaik, mood membaik, bayi tetap sehat, sedikit-sedikit bisa nyicil menyelesaikan Bab 1 dan bisa dikumpulkan minggu depan (aamin paling kenceng). 

Btw, membuat seri apa kabar disertasi nampaknya menyenangkan ya 😆😁

Ya, semoga saja ngga males saya 😆😆


Edited: saya kepikiran bikin video dg background hujan, depan laptop, word yang kosong, kopi yang mengepul, dan buku catatan kosong, dengan narasi ini. tapi, ini oversharing ngga sih kalau dipublish di IG atau tiktok gitu? 

Monday, 20 February 2023

Mensyukuri Hidup

Belakangan saya punya kebiasaan baru. Tiap pukul setengah enam pagi saya akan duduk di teras rumah, melihat ikan di kolam kecil, sambil minum Good Day Capuccino hangat. 

Sesuatu yang sangat tidak mungkin saya lakukan 3 atau 4 tahun lalu. 

Ya, masa-masa itu adalah masa ketika saya harus bangun jam 3 pagi, membersihkan botol susu dan perlengkapan pumping, kemudian pumping (yang melelahkan), masak, beberes rumah, persiapan kerja, nyiapin bekal Fafa, berangkat jam setengah 6 pagi karena kereta berangkat pukul 6 kurang. 

Waktu yang sangat sesak. Teramat sangat sesak. 

Tidak heran waktu itu saya kena ppd berkepanjangan :')

Tapi pertanyaan pentingnya, apakah saya membenci hidup saya yang dulu dan mencintai setengah mati hidup saya yang sekarang?

Nyatanya tidak juga. Meskipun apa yang saya miliki hari ini bisa jadi adalah sesuatu yang saya idam idamkan dulu kala, beberapa tahun ke belakang.

Nyatanya saya tidak sepenuhnya menikmati hidup menjadi ibu rumah tangga yang kebablasan ini, hahaha. Ya, bagaimana tidak kebablasan, wong saya jadi ibu rumah tangga juga masih semaunya sendiri. Rumah ya nggak bersih bersih amat, masak juga kalau ngga males, kalau males ya tinggal gofood atau makan di luar 😅 Sungguh bukan ibu rumah tangga yang berdedikasi.

Seringkali saya rindu hidup yang padat seperti dulu. Hidup penuh jadwal-jadwal yang padat dan runut. Seringkali saya rindu diburu waktu. Walaupun ada kalanya saya juga sangat menikmati hidup yang sekarang. 

Pada akhirnya manusia memang tidak pernah bersyukur. Atau sulit sekali bersyukur. Meskipun Hidup sudah mewujudkan bahkan mimpi mimpi terliar mereka. 

Sunday, 29 January 2023

Hai Baby no. 3

Nanti ketika anak no. 3 saya lahir saya ingin melakukan ini:

1. Menangis meraung ketika dia lahir atau ketika proses persalinan. Saya ngga mau lagi denger kata orang atau peduliin pendapat orang. Saya hanya butuh memvalidasi perasaan saya sendiri. Dan itu tidak apa-apa. 

2. Menghabiskan waktu untuk tidak tergesa dan istirahat. Terutama setelah melahirkan. Saya mau makan yang enak enak dan mengenyangkan. Saya tidak mau peduli lagi kata orang bahwa ibu menyusui harus ABCD, saya akan melakukan apa yang tubuh saya ingin lakukan. Jika ingin istirahat pun saya akan melakukannya. Jika ada yang mencemooh bentuk tubuh saya setelah saya melahirkan, saya akan membalasnya dengan kenyinyiran paling nyinyir. Ya, ini pe er besar saya. Saya harus bisa jadi manusia nyinyir sekarang. Saya tidak boleh lagi membiarkan mental saya dilemahkan orang-orang yang bahkan tidak berkontribusi apapun dalam hidup saya. 

3. Saya ingin punya rewang. Saya ingin fokus sama anak-anak saya. Peduli amat apa kata orang. Yang ngeluarin duit juga saya kan?

4. Saya ingin banyak tutup telinga. Saya sudah cukup tua. Dan pasti melelahkan punya anak di usia sekian. Belum lagi saya harus menyelesaikan disertasi dan lain lain. Saya hanya harus fokus pada diri saya sendiri. 

5. Saya ingin jadi selfish. Itu aja sih intinya. Saya cape jadi saya beberapa waktu belakangan. 

Entah, tapi saya membayangkan diri saya yang lebih kuat nanti. Semoga saya tidak lagi baby blues, tidak lagi kena post partum depression. Semoga semesta mendukung saya kali ini ❤️

Aamin ❤️

Sunday, 8 January 2023

Kind hearted man

Dulu sebelum kami menikah, beberapa kali dia mengajak saya mengikutinya bekerja. Menyalurkan bantuan, survey calon penerima bantuan. 

Bagi saya itu bukan pekerjaan mudah. Sangat berat malah. 

Tidak mudah mendongak maupun menunduk terlalu dalam untuk mereka yang ada di tengah-tengah. 

Hampir selalu ketika saya ikut dia bekerja, semuanya berujung dengan saya nangis di boncengan motornya. Ya simply karena hati saya tidak pernah bisa sekuat hatinya. Menyaksikan mbah-mbah yang harus hidup sendirian, dengan rumah yang tentu sudah tidak mampu lagi bagi si mbah untuk membersihkannya sendiri, bukan hal mudah untuk saya. Ya, semua selalu berakhir saya menangis dan mewek. Selalu. 

Sementara dia, dia selalu bisa berkata tegas, tak tek tak tek, tapi tetap santun dan selalu bisa menempatkan diri di manapun dia berada. Nada bicaranya tidak pernah merendahkan, tapi juga tidak pernah terlihat cengeng seperti saya yang cemen. 

Ya, laki-laki itu adalah suami saya. Laki-laki dengan hati terbaik yang pernah saya kenal. 

Beberapa hari lalu harusnya kami bersenang-senang. Kami piknik bersama, tapi ya seperti biasa, dia tiba-tiba dihubungi kantor, dan diminta untuk melakukan beberapa hal dalam waktu yang sesingkatnya. Seperti biasa. Dia tidak menikmati piknik kami. Tapi ya sudahlah. Pasti sulit membagi pikiran dalam kondisi seperti itu. 

Kemarin, dia mengajak saya dan anak kami berkeliling. Kami mengunjungi beberapa rumah. Dia memastikan bahwa semua penerima bantuan untuk mengambil haknya hari itu. 

Menyaksikannya melakukan itu, selalu membuat saya jatuh cinta lagi dan lagi. Dalam hati saya berkata: Laki-laki ini adalah laki-laki terbaik! 

Ketika saya pikir semua sudah selesai, di rumah pun dia masih sempat membuat beberapa panggilan, memastikan semua tersalurkan. Dia bahkan pergi lagi ke tempat penyaluran, ya sekali lagi untuk memastikan. 

Bahkan ketika di rumah, ketika masih saja ada telepon atau sms, dia masih membalas dan menjawabnya dengan nada paling santun. 

Dia mungkin tidak tahu. Mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa saya benar-benar mengaguminya. Saya sangat sangat bangga padanya!

Thursday, 5 January 2023

parenting apalah apalah

Sebenarnya saya ke-trigger postingan yang direpost seorang teman beberapa waktu lalu. Postingan itu bercerita tentang dosis sayang yang tepat untuk anak. Menurut postingan itu dan banyaaakkk sekali postingan di Instagram yang berseliweran, bersikap tegas, membuat aturan yang saklek, menuntut anak untuk bisa, tidak terlalu memanjakan anak, adalah kumpulan hal-hal baik yang akan berguna bagi anak di masa depan. 

Melihat itu saya sebenarnya pengen tertawa sedih. 

Saya dibesarkan dengan berbagai tuntutan untuk bisa (karena orang tua melihat saya mampu), diupayakan rangking 1, bisa kerja di tempat yang baik, mandiri, semua-semua bisa sendiri. 

Ya, I did it. Saya berhasil melakukannya. Saya bahkan berhasil melebihi ekspektasi yang bahkan di luar ekspektasi sekalipun. 

Tapi setelah itu apa?

Apakah orang tua saya tahu seberapa sering saya menangis karena saya takut gagal? Apakah ada yang tahu bahw kadang saya butuh dibiarkan, butuh dimanja, butuh untuk tidak selalu membuat keputusan sendiri? Apakah ada yang tahu rasa takut saya bertahun-tahun berada di kota asing, tidak menemukan keamanan, merasa kosong, takut tapi tetap harus berani? Apakah itu menyenangkan? 

Tidak. Tidak sama sekali.

Shit, saya nangis nulis ini. Hahahaha. 

Saya melihat pola yang benar-benar tidak ingin saya ulangi. 

Saya tahu, selalu ada positif negatif di setiap keputusan, termasuk keputusan parenting. 

Sisi positif dengan gaya parenting seperti itu adalah, saya bisa menjadi seseorang yang kuat (tapi keropos di dalam. Hahahaha). 

Dan saya tidak ingin mengulangi itu. 


Maka, ketika banyak yang bilang saya dan suami terlalu memanjakan anak kami, dalam hati saya cuma bilang: Ini adalah hal yang paling ingin saya dapatkan ketika saya kecil dulu.

Shit! Mewek lagi saya!!!

Tuesday, 3 January 2023

30 Hari Bercerita

Kepala saya penuh. Saya punya banyak hal yang ingin saya ceritakan lewat tagar #30haribercerita. Tapi kemudian saya urungkan. Saya tahu saya bukan orang yang pandai menahan diri. Sekali saya mengikuti tantangan itu, bisa dipastikan saya akan oversharing hal-hal tidak penting yang sudah saya lakukan via twitter dan blog ini tentu saja 😅

Jadi, mari tetap bercerita di sini saja ya. 

Apa kabar tahun baru? Ada resolusi apa? Hahahaha. 

Entah, tahun ini saya tidak lagi sibuk membuat daftar panjang hal-hal yang harus saya capai. Saya ingat, bahkan untuk konsisten bangun pagi saja saya tidak mampu 😅 Konsisten nge-treadmill saya pun tidak bisa. Lalu apa yang bisa saya capai? Yang ada saya malah cape menghukum diri sendiri 😅

Hidup masih begitu-begitu saja. Rencana yang dibuat, masih banyak yang tidak tercapai. Sekecil rencana pengen ke kampus saja tidak tercapai 😅 Saya masih nggondokan, suami saya masih sabar menghadapi saya, anak semakin besar dna semakin pandai menasehati orang tuanya 😅 Ya, hidup masih sesederhana itu. Sambil sesekali dibumbui ambisi yang habis dengan kata 'sudahlah' 😅

Ah ya, kemarin saya bimbingan. Jadwalnya adalah mengajukan model rencana penelitian. Saya propose 3 model. Jujur saya merasa promotor saya kurang tertarik dengan tema saya meskipun saya menganggapnya wow sekali. Model saya pun hanya dilihat sekilas, dan hanya 1 model yang mendapat masukan, yang sepertinya itu nanti yang akan saya lanjutkan.

Beberapa waktu saya mencoba mencerna, mengapa promotor saya tidak sebersemangat itu untuk mendukung saya. Kemudia saya sadar, beliau adalah sosok yang sudah malang melintang di dunia perkuliahan selama sekian puluh tahun. Beliau pasti paham, mana yang ongso-ongso, mana yang realistis, mana yang bisa dikerjakan, mana yang terlalu utopis. 

Kemudian saya ingat kalau saya pun pernah bilang ke mahasiswa bimbingan saya: Sudah, manut dosen pembimbing saja. Percaya saja sama dosen pembimbing. Dosen pembimbing lebih tahu. 

Pada akhirnya ya, saya kemakan omongan saya sendiri (lagi) 😅😅😂😂


.

Wednesday, 23 November 2022

Hidup Selo

Hidup yang dipamerkan dan digembar-gemborkan adalah hidup yang diuji.

Yha!

Baru saja menikmati keseloan hidup, baru saja mensyukuri betapa balance-nya hidup saya, baru saja I love my life dimana-mana, eh tiba-tiba saja mak klithik ada saja. 

Sebenarnya saya menahan diri sekali untuk tidak sambat. Tapi karena tadi mendadak saya nangis malam-malam, ya saya pikir saya masih manusia sambat itu. 

Anak saya demam dam sudah 2 hari ini tidak turun demamnya. Tidak mau minum obat, tidak mau makan, mamak ngga boleh kemana-mana, dan ya begitulah..

Padahal, saya membayangkan dan merencanakan minggu ini akan jadi minggu full mengerjakan disertasi, ke kampus, ikut berbagi kelas dan workshop, tapi ya itu tadi, hidup yang dipamerkan adalah hidup yang diuji.

Membuka laptop tidak bisa, tidur tidak bisa, dan banyak sekali ketidak bisaan terjadi beberapa hari terakhir. Saya mencoba selo. Mencoba sebaik mungkin selo, mencoba mencari hikmah di setiap kejadian, mencoba bilang ke diri saya sendiri kalau ini akan segera berlalu, tapi ya bagaimana ya.. 

Jujur dalam hati saya bilang: yha! Kamu masih seperfeksionis itu. Kamu masih jembek kalau ada rencanamu yang tidak berhasil. Jangan sok sok an pamer jadi manusia selo! 

Dan saya cuma bisa mencelos, antara ingin menyangkal kalimat itu sekaligus ingin membenarkannya 😠😡🤬😢😥😓😔🤪😭

Monday, 21 November 2022

Cool Kid

Saya selalu berpikir menjadi orang yang keren itu keren. Menjadi orang berprestasi itu menyenangkan. Menjadi yang nomor 1 itu keharusan.

Saya tidak menyalahkan siapapun atas kedirian saya menjai seorang bitchy ambis. Ambis yang paling ambis. 

Ya, I took everything as a competition. Saya suka merasa menang. Saya suka melakukan upaya yang seolah tidak mungkin, tapi saya berhasil melakukannya. Saya suka pujian. Saya suka dinilai atas kemampuan saya. Suka sekali. Sangat sangat suka. 


Tapi ya, seperti yang saya ceritakan lalu lalu. Toh saya cape hidup seperti itu. Saya lelah sekali. 

Dan hari ini kenapa saya menulis ini, simply karena salah satu rekan kantor yang seringkali dibandingkan dengan saya (kami sama-sama anak beasiswa kampus yang direkrut menjadi dosen. Dia laki-laki), akhirnya sudah menyelesaikan studinya di negara seberang. Tidak perlu saya tulis ya negara mana. Dia menyelesaikan stydinya saya yakin dengan sempurna. Entah berapa artikel Q1 berhasil dia terbitkan semasa dia studi. Dia pun pintar sekali bersosialisasi. Dan dia juga dekat dengan profesor yang saya menganggap beliau sebagai Ibu (tapi entah bagaimana beliau menganggap saya. Hehehe)

Jujur saya sempat menjadikannya acuan. Saya harus bisa seperti dia, saya harus lebih dari dia. Saya ngga mau kalah dari dia. I used to live that way. 

Tadi mendengar kabar dia lulus..

Kalau dulu mungkin saya dongkol. Merasa kok gini-gini aja. Padahal saya kuliah dalam negeri, dekat dengan keluarga, kok saya ngga bisa seberprestasi dia. Saya pasti sebal dengan diri saya sendiri. 

Tapi semenjak mulai bisa hidup selo, alhamdulilah sekali hari ini saya tidak merasakan satu pun perasaan itu. Ya masih sedikit menyalahkan diri sendiri tentu saja, tapi bukan lagi dalam porsi yang berlebihan. 

Saya sedang sangat suka dengan hidup saya ☺️ alhamdulilah. Saya bisa kuliah, saya bisa menyiapkan sarapan untuk anak dan suami, saya bisa mengantar mereka berangkat sekolah dan kerja, saya bisa pulang sore ndak terlalu malam. Hidup saya rasanya seimbang sekali. 

Ini tadi saya mengingat sepenggal lagu yang entah dinyanyikan oleh siapa:

I wish that I could be like the cool kid.. 

Ndak. Saya ndak berharap menjadi orang yang keren lagi. Saya cuma pengen menikmati dan mensyukuri apa yang saya punya sekarang ☺️



Wednesday, 9 November 2022

switch




sebelum mulai mengerjakan review, saya ingin bercerita. 

bagaimana menjadi perfeksionis di mata saya?

gampangnya begini. setiap pagi saya terbiasa minum good day capuccino panas. maka ketika pagi datang, dan ternyata stock good day saya habis, maka saya akan menyalahkan diri saya seharian. dan seluruh hal buruk yang terjadi hari itu adalah gara-gara saya tidak aware kalau stock good day saya habis, sehingga saya melewatkan satu event penting dalam hidup saya. 

atau, begini. saya merasa bahwa saya bisa dan pandai sekali di mata kuliah A. tapi ketika dosen bertanya, dan kebetulan saya tidak bisa menjawab atau ternyata pernyataan yang saya berikan tidak tepat, maka saya akan mengutuk diri saya sendiri tidak ada habisnya. 

cape ngga hidup kaya gitu? 

sekarang cape. cape sekali. tapi dulu tidak. 

dulu sebelum menikah, saya bergantung dan berlindung pada keteraturan. saya menemukan kedamaian dan rasa tenang juga rasa aman dari keteraturan. 

saya akan bangun jam sekian, mandi sekian menit, berangkat pukul sekian, sampai kantor pukul sekian, nanti makan apa, pulang kantor mau ngapain aja. itu semua sudah tertulis di kepala saya, dan harus sesuai. maka, untuk membuatnya sesuai pun, sebenarnya saya menjadi perempuan yang tidak seperti di sosmed-sosmed itu. motor saya adalah motor paling enak di dunia (terlepas dari banyak cedera berat karena saya sering jatuh). saya tidak pernah bolos sekalipun tiap bulan untuk servis rutin, v-belt rutin diganti tiap 24.000 km tepat atau paling tidak 2 tahun sekali harus ganti, ban kalau terasa kempes harus segera diisi angin, bensin tidak boleh kosong. ya, itu contoh kecil saya mempersiapkan semuanya, supaya saya tidak telat masuk kantor. karena kalau sampai saya telat masuk kantor, hari saya bisa buruk karena rencana saya berantakan. dan banyak persiapan-persiapan kecil serta keajegan-keajegan yang saya ciptakan supaya dunia saya berjalan lurus. saya tidak suka goncangan, btw. 

lalu setelah menikah dan punya anak? 

dunia saya berubah jadi wkwkwkwland 😂😂😂😂😂 

pengetahuan menjadi ibu yang minim membuat saya mendasarkan hidup saya pada apa yang terlihat di sosial media. contohnya begini, pumping itu normalnya sekali pump minimal, minimal banget ini ya, dapet 50 ml. rata-rata ibu, bisa dapet hingga 150-250 ml. lalu apa yang terjadi pada saya? yha! sekali pumping saya hanya bisa dapet 25 ml-an. paling banyak 50 ml. pernah sampai 100 ml tapi itu cuma beberapa kali saja. 

bisa ditebak kan saya bagaimana dengan kondisi seperti itu? 

belum lagi ngadepin anak yang picky eaters, yang hanya mau makan itu-itu saja, yang tiap kali saya masak ya ujung-ujungnya mbuang, padahal masak artinya saya sudah menghabiskan sekian jam untuk melakukannya. dan itu sia-sia.

btw itu cuman 2 contoh kecil. contoh lainnya, buanyaaakkkk 😂😂😂😂😂


sampai sini saya menghela nafas panjang sekali. hahahaha


ya itulah yang membuat saya benar-benar berubah beberapa tahun belakangan. ada banyak hal yang benar-benar di luar kendali saya dan saya mati-matian berusaha berdamai dengannya :)


alhamdulillah saya masih bisa sampai di sini :)


lalu kemarin, setelah pelan-pelan saya bisa melepaskan diri dari banyak 'harusnya' dan'keharusan' dalam hidup, saya mulai bisa sedikit-sedikit menjadi agak selo. saya mulai ingin menikmati hidup dan mensyukuri banyak hal yang ada di hidup saya sekarang. benar-benar mensyukurinya dan make the most of it. 

jadi ceritanya kemarin saya berkunjung ke satu-satunya mall di kota ini. membeli makanan favorit anak saya karena saya ngga masak (saya sedang malas masak dan pengen mengerjakan review saja kemarin). lalu ketika menunggu pesanan saya dibuatkan, saya melihat beberapa ibu-ibu pns sedang makan siang di tempat yang sama. entah, tapi saya melihat mereka begitu ayem nampaknya. sekelebat saya kepikiran, apa saya nanti resign saja ya, nyari kerja di kota ini saja. saya memang sudah terlanjur emoh pindah dari kota ini. 


tapi kemudian tadi pagi saya mikir, alih-alih kepingin pindah kerja (yang itu masih bisa dipikirkan nanti), kenapa saya ngga menikmati waktu saya yang sekarang ya? toh saya juga bisa kok makan siang kapanpun saya mau, dan dimanapun itu. selepas makan siang njemput anak, atau bisa ngajak makan siang anak bareng. toh gaji ya masih dapat, beasiswa juga lancar, hahaha. 


ya, kenapa saya terlalu banyak mikir nanti-nanti? kenapa ngga saya manfaatkan saja apa yang saya punya sekarang tapi dengan catatan ngga terlalu ngoyo (walaupun kayaknya ngga terlalu ngoyo itu juga masih PR berat untuk saya. saya ndak suka kalau ngga ngoyo. hahaha). 


jujur ini adalah pemikiran baru dalam benak seorang perfeksionis seperti saya. ya sudah, nikmati saja saat ini. jalani saja yang ada sekarang. usaha ya usaha, tapi jangan terlalu mematok hasil. sudah dijalani saja. kalau gagal ya ngga papa. kita cari penghiburan lain nanti. ngga usah terlalu terpaku pada jadwal dan list-list panjang yang membebani hidup. tapi ya kalau pas pengen bikin list panjang, ya bikin aja sih. kalau pas pengen ngoyo, ya ngoyo aja sih. kalau pas pengen selo, ya sudah santai saja sih. sekolah ya sekolah aja, dinikmati sebisanya masa 'cuti puanjang' ini. di enak-enakin ngemall sendirian sambil buang-buang duit (hahahaha), dinikmati jalan-jalan sendiri di kota ini, dinikmati berdua sama Fafa tanpa kerjaan di tangan, dinikmati mainan berdua, cerita-cerita yang banyak, makan bareng, atau apapun itu :)


ya, saya sedang berusaha untuk bisa switch seperti itu. entah ini baik atau tidak, saya tidak tahu. kita coba saja. 



Monday, 7 November 2022

Chasing Pavements




jadi, setelah om warm komentar di Twitter, saya jadi flash back dengan apa saja yang saya tulis. hahaha. dan ternyata semua tidak jauh-jauh dari upaya saya menghadapi post partum depression yang naudzubillah panjangnya. 

somehow, setelah saya runut, mungkin penyebabnya adalah memang saya orang yang sangat perfeksionis sebenarnya. bukan perfeksionis in a common way, tapi saya perfeksionis dengan skenario yang sudah dan selalu saya rancang dalam kepala saya. beberapa tahun belakangan memang ada banyak sekali skenario yang tidak sesuai. saya menganggap dunia di luar saya (dunia instagram, dunia twitter, dunia tempat saya bekerja, dunia yang ditunjukkan orang-orang dalam story WA-nya), semua yang indah, adalah sesuatu yang normal. yang jika orang lain bisa melakukannya, maka saya pun demikian. maka, seringlah saya membuat target-target tidak realistis, menetapkan batasan-batasan absurd, yang seolah saya harus dan selalu harus mencapainya. karena itu saya kelelahan. karena itu saya terus merasa kurang dan depressed. bahkan saat saya sudah mendapat beasiswa S3 pun (Sesuatu yang menjadi impian tidak masuk akal saya). saya merasa saya harus menjadi mahasiswa paling pintar, paling cerdas, mendapatkan A di semua mata kuliah, bisa menjawab pertanyaan dosen, mengerjakan tugas dengan baik, bisa publish Scopus Q1. padahal kenyataannya, ya ternyata saya tidak berhasil mewujudkan itu semua. 

saya ingat, saya lelah sekali saat itu. lalu entah kekuatan dari mana (ini butuh kekuatan yang sangat besar), saya akhirnya menyadari kalau hidup ngga perlu se-ngoyo itu. sudahlah. sesekali biarkan hidup berjalan tanpa rencana. sesekali nikmati saja menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja, sesekali tidak mengerjakan tugas pun tak apa, sesekali lebih concern dengan Fafa, sesekali merasa bahagia dengan badan yang semakin besar, toh dulu juga sudah pernah langsing. 

setelah itu, lalu perlahan saya mulai sedikit 'sembuh'.

saya memutuskan untuk membeli sepatu baru yang nyaman, yang saya merasa saya nampak nyaman ketika memakainya. saya memutuskan membeli baju yang lebih besar, yang saya merasa saya nampak nyaman memakainya. saya singkirkan baju kecil yang membuat perasaan saya buruk, dan saya tidak mau memakainya lagi. saya pun sudah tidak seberapa peduli dengan nilai yang saya dapat, toh yang paling penting dana beasiswa lancar hahaha.

lalu saya mulai berani keluar rumah, berani ke kampus, berani menghadapi omongan orang yang bilang. "kamu gendutan, ya?" ya saya masih memikirkan omongan macam itu tentu saja, tapi sudah tidak terlalu saya ambil hati. sudahlah. apa yang saya alami ini wajar kok. apalagi saya kan memang sedang mengalami satu perubahan hidup yang cukup drastis. 

dan hari ini sebenarnya saya kemari karena saya ingin curhat. hahaha. 

mengerjakan disertasi itu berat ya? 😂😂😂😂😂 

saya membaca ratusan artikel, dan semakin saya baca semakin saya tidak percaya saya bisa melakukannya. saya rasanya sampai pada titik dimana saya ingin menyerah. nyari topik baru. yang artinya saya harus baca ribuan artikel baru. hahaha. mata apa kabar, dah?

sungguh saya pusing sekali menghadapi topik-topik ini. tapi ya, ini sesuatu yang harus saya hadapi dan saya perjuangkan.  

nanti lah, saya ingin cerita panjang lebar tentang proses disertasi ini. bagaimana saya menahan mual tiap hari, dan bagaimana saya bertahan dengan mata yang sudah semakin renta karena kebanyakan melihat layar ini. 

anyway, ini bonus lagu-nya Adelle. Chasing pavement. Lagu ini menggambarkan suasana hati saya saat ini.


"Chasing Pavements"

I've made up my mind
Don't need to think it over
If I'm wrong, I am right
Don't need to look no further
This ain't lust
I know this is love

But if I tell the world
I'll never say enough
'Cause it was not said to you
And that's exactly what I need to do
If I end up with you

Should I give up?
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere?
Or would it be a waste
Even if I knew my place?
Should I leave it there?
Should I give up?
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere?

I build myself up
And fly around in circles
Waitin' as my heart drops
And my back begins to tingle
Finally, could this be it

Or should I give up?
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere?
Or would it be a waste
Even if I knew my place?
Should I leave it there?

Should I give up?
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere?

Should I give up?
Or should I just keep on chasin' pavements
Even if it leads nowhere?
Or would it be a waste
Even if I knew my place?
Should I leave it there?

Should I give up?
Or should I just keep on chasin' pavements?
Should I just keep on chasin' pavements?
Ohh oh

Should I give up?
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere?
Or would it be a waste
Even if I knew my place?
Should I leave it there?

Should I give up?
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere?

https://www.youtube.com/watch?v=urKPQtbE_bs