Wednesday, 11 March 2026

Life after resign: Hidup kan baik baik saja

Sebenarnya saya masih sedih sekali hari ini. Perasaan prrasaan rendah diri itu muncul bertubi tubi. Seolah saya tidak layak. Seolah memang semua kesalahan bertumpu pada saya. 

Saya juga merasa tidak lagi percaya diri. Karena saya seperti kehilangan sesuatu yang melekat pada diri saya. Saya merasa tidak mampu. Saya merasa semua hal di luar diri saya terlalu besar.

Siang ini saya mengurus BPJS TK. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan meskipun saya pindah kerja berkali kali. Lalu kenapa saya melakukannya sekarang? Karena amarah, jujur. Saya marah sampai saya ingin segera memutus semua hubungan dengan mereka. Maksud saya jika ada urusan dengan mereka biar segera saya tangani. Biar tidak berpanjang panjang lagi. 

Nyatanya, dari kemarin semua mudah. 

Urusan dana pensiun di bank. Urusan BPJS TK juga mudah. 

Dan yang membuat saya agak kembali normal adalah, ketika harus mengurus itu semua maka saya harus menyerahkan surat yang menyatakan pemberhentian diri saya dengan tidak hormat itu. Saya sedih, malu, dan merasa oranh lain akan memandang rendah saya karena status tidak hormat tadi. 

Nyatanya, mbak mbak bpjs ramah sekali, mbak mbak di bank juga lumayan ramah, di rumah juga semua tetangga baik baik saja, tidak ada satupun makhluk yang menganggap saya tidak hormat toh 😭😭

Sampai sini kemudian saya teringat lagi, iya ya, ketika saya di luar lingkungan itu saya selalu merasa besar dan lapang, semua memandang saya ya karena kedirian saya, bukan karena profesi saya. Tapi ketika di sana semua berbeda. Iya, saya ingat, rasa sesak membuat saya tidak bisa apa² di sana 🥹 dan itupun alasan kuat untuk resign kan kemarin 🥹

Hheeemmm..


Ya, hidup akan baik baik saja. Hidup akan selalu baik² saja..

Life after resign: the sad part

2 hari ini saya sedih. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggelayut di kepala saya. Rasanya pengen nangis tapi ngga bisa nangis. Penuh sekali :(

Saya tidak tahu apakah ini bagian dari saya menyesali keputusan resign saya atau bagaimana. Saya tidak tahu apakah ini karena saya sedih identitas saya tercerabut dari saya. Saya tidak tahu apakah ini karena saya sedih karena surat pemberhentian tidak hormat dan bagaimana saya kerja nantinya dengan surat ini :( *walaupun sepengalaman saya surat pemberhentian ini jarang diminta sih. 

Saya sedih sekali :( apakah hidup saya akan berakhir seperti ini? Walaupun di sisi lain saya juga ngga mau hidup dengan gedabrukan pagi, ngamuk i anak² karena saya terlambat, macet rebutan tempat duduk dan panas dalam bis dan udara surabaya yang naudzubillah, serta ke kampus ngga jadi apa dan ngga ngapa²in, lalu pulang dalam kondisi cape dan lagi² pelampiasannya ke rumah :( Tidak itu lebih buruk. 

Ah ya mungkin yang saya sayangkan adalah karena kutubnya terlalu ekstrim dan saya tidak bisa handle itu. Iya benar, akhirnya saya menemukan kalimat yang tepat untuk menggambarkan ini semua. Kutub yang saya alami sekarang terlalu ekstrim. Benar² seperti utara selatan, tidak ada timur barat di antaranya. 

Kutub yang ekstrim
Ya, saya pikir dulu kondisinya akan tidak seburuk ini ketika resign. Saya pikir saya masih bisa jadi dosen di kampus kecil. Saya pikir saya masih bisa apply² ke mana². Tapi nyatanya saya seperti diberi hukuman mati. Surat yang diberikan nampak benar² seperti hukuman mati. 

Sesak sekali. 

Dan sialnya saya tidak memprediksikan kondisi ini. Saya kira hal terburuk adalaj finansial. Tapi pikiran bahwa kita dimatikan itu ternyata lebih buruk. Pikiran bahwa setelah ini kita tidak bisa kemana mana itu jauh jauh lebih buruk. 

Iya saya tahu dan masih sangat² percaya kalau buminya Gusti Allah ini luas. Tapi ada kalanya ketika yang kita hadapi akhir² ini begitu menyesakkan, rasanya seperti apakah memang seperti keadaannya; seperti apakah ini akan selamanya :(

Hhhehhhmmmm

Doakan saya ya. Doakan saya segera dapat pekerjaan lagi. Doakan saya segera ada rutinitas lagi :( Supaya saya merasa bahwa saya belum mati dan mereka tidak bisa mematikan saya :(

Monday, 9 March 2026

Life aftet resign: the coward phase

Hari ini semuanya buruk. Kelabu. Saya tidak ada energi positif sama sekali. 

Kepala saya dipenuhi pertanyaan: bagaimana jika, bagaimana jika, bagaimana nanti. 

Tiba² saja saya jadi pengecut. Saya takut luar biasa hari ini. Saya takut memikirkan masa depan. Takut bagaimana dengan pendidikan anak². Takut bagaimana jika nanti saya tidak segera dapat pekerjaan. Bagaimana dengan masa tua kami. Apa yang akan saya lakukan. Bagaimana anak².

Saya benci sekali perasaan seperti ini. Saya ingin selalu sombong yang sepadan dengan percaya dengan Hidup dengan Gusti Allah. Seperti ini rasanya seperti saya meremehkan Tuhan sekali. Rasanya hidup saya sudah berhenti. 

Benci sekali dengan perasaan: harusnya dulu saya sabar ya. Harusnya dulu saya terima saja ya kontrak itu. Harusnya saya ngga bikin masalah ya. 

Arggghhhh

Saya lupa kalau saya benci panasnya surabaya, saya lupa saya benci tergopoh² saat pagi, saya lupa saya benci melihat wajah suami saya yang lagi² harus berkorban namun dia tetap tersenyum dan bilang: ngga papa, saya benci dengan pekerjaan lama yang meremehkan saya sekali, saya benci saya tidak diberi kesempatan, saya benci saya dipojokkan, saya benci status saya tidak berubah menjadi aktif, saya benci naik trans jatim, saya benci macet, saya benci naik gojek kemproh, saya benci pandangan mengasihani karena saya lusuh. 


Saya hanya harus ingat semua kebencian itu

Saturday, 7 March 2026

Life after resign: The accepting phase

Pada tahap ini saya sudah menyerah untuk memikirkan tentang mereka. Dan saya harap saya tidak akan mendengar kabar mereka lagi atau tidak akan berhubungan dengan mereka lagi. 

Saya hanya ingin fokus dengan diri saya sendiri. 

Pada tahap ini saya sedang merasa, Tuhan mungkin sedang diam-diam mengabulkan doa yang saya lantunkan pelan. Doa doa yang terasa tidak mungkin terwujudkan karena ya saya sadar diri siapa saya. 

Biar saya cerita tentang sesuatu. 

Jadi pekerjaan pertama saya dulu adalah saya kerja di pabrik di perusahaan Korea. Gaji saya dollar waktu itu. Tiap kali terpuruk, saya selalu mbatin: ya Allah kapan ya aku digaji dollar lagi 🤣 Sungguh pekerjaan pertama saya adalah pekerjaan yg menyenangkan secara gaji 🤣 standardnya tinggi sekali. Rekan² saya dulu mungkin sekarang gajinya sudah dua digit semua. And im happy for them tentu saja.

Lalu pekerjaan ke dua saya, hampir 80% klien saya adalah orang asing. Sayanya aja yang bodoh dan naif waktu itu. Kenapa ngga bisa memanfaatkan itu semua 🤣 Saya senang bercakap dengan orang asing, saya senang ketika mereka paham maksud saya. Saya senang ketika bisa bercerita dengan mereka dan tahu hal hal baru. Semua itu menyenangkan. Sering saya berharap: kapan ya saya bisa mengalami tongue twist lagi 🤣

Pekerjaan ketiga, skip. Saya ngga suka dan ingin saya hapus dari ingatan tentang pekerjaan ini 🤣

Pekerjaan ke empat, I was corporate girlie. Seneng banget kerja di shipping line gede yang bener² kek kerja korporat kaya orang² di kota besar dengan kantor bagus, lanyard, orang² yang wangi dan dress well, high heels. Ugh, I miss those high heels moments so so much 🤣🤣🤣

Lalu saya meninggalkan pekerjaan ke lima saya dengan perasaan dendam. Hahahaha. Ya, semoga saya bisa memproses perasaan ini dengan baik ya. Be it with kindness or anger 😁😁😁

Dan sekarang saya sedang dalam proses mencari pekerjaan. Saya kira remote working adalah hal yang tepat. Since karena yang saya cari adalah saya memang ingin tetap dekat dengan keluarga, tapi tetap menghasilkan. Dulu saya pikir dengan S3 semuanya akan mudah, tapi ya.. sudahlah. 

Anddd...

Saat ini memang saya sudah dapat remote work. Recehan sih. Recehan banget. Jadi AI trainer. Tapi perusahaannya komit banget saya suka. Part lain yang saya suka juga adalah karena gajinya Dollar dan saya punya ewallet dollar sekarang. Hehehe. Receh banget dollarnya tapi saya seneng ya Allah 😭😭🤣🤣 Tiap hari saya ngimpi kurs Dollar menguat biar tabungan saya jadi banyak 🤣🤣🤣

Anndddd another magic happen..

Saya baru dapat offering letter kemarin. Dari perusahaan Singapura. Kerjaannya jadi trainer untuk corporate client. Gajinya SGD per project memang. Dan remote 

Well, can u see the red line 😭😭😭

Tuhan sedang membentuk Hidup baru saya pelan pelan 😭😭😭 sesuai dengan apa yang saya batin selama ini 😭😭😭😭

Dannn... 

Minggu depan saya akan ada wawancara dengan penerbit Inggris untuk jadi associate editor dengan work term: contract bukan per project. Artinya kalau saya ketrima saya akan dapat gaji bulanan. Dalam dollar 😭😭😭😭

Doakan interview saya minggu depan lancar ya... 

Well alasan terbesar saya resign adalah keluarga. Saya ingin hidup keluarga saya baik baik saja. Saya ngga ingin jadi ibu yang berangkat sebelum anak bangun dan pulang dengan rasa lelah luar biasa. Saya ngga ingin jadi istri yang menimpakan mayoritas tanggung jawab rumah ke suami. Saya ngga ingin jadi beban dengan kontrak tidak adil yang harusnya saya tanda tangani. Saya hanya ingin keluarga saya berfungsi dengan baik dan tidak mengorbankan siapapun 🥹🥹

Dan mungkin hanya Allah yang bisa menerima alasan ini dan kemudian membuka jalan jalan lain dan pintu pintu lain lebar lebar 😭😭😭😭😭

God is good 😭😭😭


Thursday, 5 March 2026

Life after resign: fase anger

Saya harus menulis ini untuk meyakinkan lagi dan lagi dan lagi bahwa keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang tepat. 

Hal hal yang akan/ternyata saya sesali saat resign:
1. Kehilangan identitas. Ternyata ini part paling menyebalkan. Hahaha. Saya suka disebut dengan profesi itu. Dan 10 tahun di sana seolah membuat saya melekat dengannya. Padahal kan kita adalah kita, bukan pekerjaan kita. Shit sekali part ini. 
2. Saya bakal kangen ngajar > ngga usah khawatir kamu masih punya UT
3. Saya bakal kangen penelitian > ini emang ga ada atau belum ada gantinya sih. Nulis di koran harusnya bisa jadi substitusi ya. Tapi alamak susah sekali nulis di koran itu. Apalagi saya ngga punya afiliasi. Duhhh
4. Kangen conference (?) > walaupun aga ngga juga sih, karena toh conference sekarang harus bayar sendiri 🤣
5. Kehilangan kesempatan jadi profesor marketing (?) > bisa jadi, tapi somehow hati kecil saya bilang saya masih bisa bertahan di ranah ini. Cuman sekarang belum waktunya aja sih. Siapa tau kan ya bisa jadi associate professor di kampus luar. Ya siapa tau kan. 

Tapi saya ngga mau berandai andai lagi. Saya ngga mau hidup di masa lalu lagi. Saya harus fokus ke depan. Mikir saya mau jadi apa ke depan. 

Walaupun jujur, hal yang paling saya sesali dari semua kemelut ini adalah: saya sedih saya ngga bisa jadi dosen di kampus yang letaknya cuman 10 menit dari rumah saya. Iya itu bagian paling menyedihkannya. 

Karena dulu kan awalnya saya kira setelah saya sekolah lagi, saya bakal bisa apply di kampus² dekat rumah. Saya ingin dekat dengan keluarga. Saya sudah ngga mau lagi kerja jauh. Cape bener. 

Tapi ya ternyata jalan itu tertutup sudah. 

Pagi tadi saya lihat lowongan di Mojosari. Ngga seberapa jauh sih. Tapi ya karena pintunya sudah ditutup saya sudah ngga bisa apa apa. Cuman hatinya mengernyit dikit. Sedih itu aja sih. 

Hemmm semoga Allah mengganti semua kesedihan ini, aamin :(

Hal hal yang ternyata TIDAK SAYA SESALI setelah resign:
1. Surabaya panas sekali dan seolah bilang kalau hidup saya bukan di sana
2. Saya benci sekali naik bis dan kereta dan panas dan macet dan kendaraan yang ya Allah... dan ojek² yang kadang juga gimana ya.. yang bikin bilang: duh mending bawa motor sendiri
3. Saya selalu cape setelah pulang dari surabaya. Bukan cape yang seperti habis lari, tapi kaya cape yang kebahagiaannya disedot Dementor
4. Akhirnya saya bisa dukung suami kerja. Selama ini dia yang selalu menopang saya. Sekarang giliran saya yang menjamin semua berjalan baik dan dia tinggal bekerja saja. Ahh... part ini paling membahagiakan 🥰🥰🤗🤗
5. Saya ngga harus gedubrakan dan ngga harus membiarkan suami gedubrakan ngurus pagi yang riweh dengan 2 bocil. Saya juga mensyukuri ini sekali. Pasalnya, saya sendiri pun kalau disuruh ngopeni bocil tiap pagi sendirian, rasanya ngga sanggup juga. Lalu kenapa saya harus menimpakan itu semua ke suami 🤗🤗🥰🥰 Ya, bagian ini juga membuat saya bahagia
6. Saya masih tetap suka ngomel dan marah². Tapi percayalah kadarnya sudah jauuuhhh berkurang. 
7. Saya bisa jalan pagi 🤗🤗🥰🥰 saya ngga perlu lagi liat orang² kemrungsung sepanjang jalan 🤣🤣
8. Saya bisa ngasilin dolar walaupun receh 🤣
9. Saya masih bisa ngajar, bikin konten, dll tanpa what if 🥰🥰🤗🤗



Well, saya akan tengok ini setiap hari biar saya tau keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang tepat 🥰🥰🥰🤗🤗🤗

Tuesday, 3 March 2026

Life after resign: another episode

Kadang hati tenang. Kadang hati juga bisa geram. Terlepas entah apa penyebabnya. 

Seperti pagi ini, rasanya rungsing sekali. Mungkin karena ada rutinitas yang tidak saya lakukan. Tapi juga bisa jadi karena ada ketakutan ketakutan yang muncul. Bagaimana jika saya tidak dapat pekerjaan. Bagaimana jika rutinitas saya hanya berkutat pada area domestik saja. Bagaimana jika.. bagaimana jika lainnya yang setara dengan ketakutan akan masa depan. 

Pagi ini saya juga sepertinya tidak bisa berjalan. Saya harus reparasi laptop saya. Keyboardnya bermasalah. Saya janjian dengan pak servisnya jam 7 pagi ini. Semoga bisa cepat dan saya masih sempat jalan pagi nanti. Karena sungguh, jalan pagi benar² membuat saya tetap warasa selama ini. Itu bagian paling menyenangkan dan yang paling saya tunggu setiap harinya. 

Tapi kalaupun sudah terlalu siang selesai beresin laptop nanti, ini adalah hal-hal yang ingin saya lakukan:

1. Perbaiki CV, apply apply lagi termasuk untuk lowongan researcher di Singapore
2. Kerja remote yang receh banget itu, semoga nanti dapat banyak task. Hahaha
3. Bikin surat untuk lembaga tinggi, surat pencabutan permohonan mediasi karena ngga ada gunanya juga kan ya
4. Ngeprint mungkin
5. Mulai kursus Inggris siap² untuk wawancara minggu depan. Huhu saya berharap banget untuk aplikasi ini, semoga sukses ya, biar saya ada rutinitas, validasi, dan jaminan bahwa saya adalah seorang pekerja bukan pengangguran :( saya ngga suka sekali status unemployment ini :(

Apapun itu, semoga hari ini baik, ada kabar baik dan saya bisa melaluinya sehari lagi :")

Monday, 2 March 2026

Life after resign: entah hari ke berapa, saya lupa

Jadi saya kemarin pergi ke satu lembaga tinggi yang menaungi profesi saya. Saya lega. Saya akhirnya mendapat jawaban yang crystal clear. Bahwa ✨️jalan saya sudah ditutup rapat✨️

Hahaha, sedih sih, but to be honest I feel so relieved dan bangga dan apa ya, alhamdulillah saya mengambil keputusan ini. 

Bukan apa-apa, karena saya akhirnya paham bahwa memang ya begitu pola dan cara mainnya. Dan sebelumnya saya masih berusaha berpikiran baik dan menaruh sedikit harapan, tapi dengan jawaban kemarin, alhamdulillah pandangan saya sudah jernih sekarang :) 

Saya membuat keputusan, saya sudah berhenti berjuang di jalan ini, dan memutuskan untuk memfokuskan energi saya di ranah lain. Bismillah ✨️🤗

Jadi, inilah hal hal yang ingin saya lakukan sekarang:
1. Belajar bahasa inggris
2. Ambil course market research dan apapun tentang methodology
3. Ambil course tentang sustainability
4. Daftar member gym setelah lebaran nanti
5. Belajar nyetir mobil
6. Build my own brand yang saya belum tau apa itu. Hahaha. Its ok, i'll keep searching


Saya tau ini tidak akan mudah ke depannya. Tapi saya siap memulai hidup baru yang align dengan visi saya. Ngga jadi seperti profesi kemarin pun ngga papa, toh hidup juga baik² saja kan ☺️🤗

Yok ah, jalan. Semoga nanti setelah lebaran sudah bisa lari, ya!

Thursday, 26 February 2026

Life after resign: Jurnaling Day 3

Saya selalu baik-baik saja, kecuali kabar datang dari tempat kerja lama saya. Semuanya selalu terasa sesak dan berat :(

Jujur kemarin saya tidak tahu harus menulis apa, karena semua terasa baik² saja. Apalagi hari sebelumnya saya memutuskan keluar dari beberapa grup whatsapp. Perasaan saya luar biasa lega. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan kata-kata 🥹

Lalu tiba-tiba saja datang berita lagi, kepala saya pusing luar biasa, saya mual, saya merasa dunia saya gelap lagi, sempit lagi. Suffocating ☹️

Saya merasa saya sudah tidak bisa apa-apa. Saya merasa kecil dan tidak mampu. Saya merasa dikerdilkan dan diasingkan sekali ☹️

Malamnya saya bilang ke suami: Apa masih ada yang mau mempekerjakan saya ya? Rasanya ingin nangis sekali 😭

Tapi, begitulah misteri hidup.

Saya bangun sahur terlambat. Melihat jam di hp, ternyata ada email. Dari salah satu publisher jurnal paling top sedunia 😭😭😭

Ya Allah 😭😭😭

Saya mendapat panggilang interview via phone untuk posisi assc. editor. Di jurnal Q1, publisher top dunia. Yang mewawancarai adalah EIC-nya langsung. 

Ya Allah 😭😭 Ya Allah 😭😭😭😭

Saya tahu kemungkinan diterimanya antara nol koma sekian hingga tidak mungkin, mengingat siapa saya dan apa jurnalnya dan kaliber jurnalnya sendiri 😭😭😭

Tapi.. sedikit harapan itu sudah cukup membuat saya merasa hidup. Membuat saya bisa melipat handuk dengan rapi dan berkeinginan membersihkan rumah, merapikan semua hal yang berantakan. Ini seolah mencerminkan hati dan pikiran saya. 

Ya Allah saya masih belum percaya 😭😭😭

Mungkin memang ini bukan apa-apa. Mungkin juga ini cuma sesuatu yang sepele. 

Tapi menjadi orang yang dipertimbangkan saja, menjadi orang yang mendapat waktu orang lain saja, itu sudah cukup menjadi bekal untuk hidup lebih baik satu hari lagi 😭😭😭😭


Terima kasih ya Allah 😭😭😭

Saya akan fokus belajar bahasa Inggris sebelum jadwal interview nanti. Doakan lancar ya.. apapun hasilnya saya berserah, saya hanya ingin menunjukkan bahwa waktu yang mereka berikan untuk saya tidak sia sia


😭😭😭😭

Tuesday, 24 February 2026

Life after resign: Jurnaling Day 1

hai apa kabar?

hidup saya setelah resign? baik-baik saja sebenarnya. tapi ya ngga baik-baik amat sih. apalagi kalau tiba-tiba ada teman yang telp atau kasih kabar tentang bagaimana nama saya di ****** lama dan proses resign yang dianggap emosional. 

pada banyak hal saya paham jika mereka menjelekkan saya atau apalah itu namanya ya. tapi di sisi lain emosi saya juga valid. saya tau itu. 

sebenarnya ada banyak sekali rasa yang berkecamuk paska resign. dan saya sudah berencana akan menuliskannya dengan runut. 

well, mungkin emosi saya masih belum stabil. saya masih berusaha mencerna dengan baik semuanya. 

kelak, semoga saya bisa bercerita lebih runut tentang ini semua :)


yang pasti sekarang, saya selalu menyukai pagi. saya tidak sabar menyiapkan tetek bengek keperluan suami dan anak berangkat kerja dan sekolah, dan kemudiaaaannnn jeng jenggggg... saya siap berkeliling GOR Mojokerto setelah mereka semua berangkat. hahaha...

waktu jalan menjadi waktu yang saya nantikan sekali. saya menikmatinya. saya menyukainya. dan saya bersyukuuuurr sekali bisa merasakannya :)

ah ya sebelum update tentang apa yang akan saya lakukan setelah ini, saya mau cerita sedikit. 


jadi kemarin seorang teman telp. dia bilang nama saya mungkin sudah di black list sepertinya. jadi kemungkinan akan berat bagi saya untuk menjadi dosen di sini :)


ah entah, kenapa himpitan ekonomi seolah menjadi dosa besar yang saya sandang? hahaha!


tapi sudahlah. berlin bilang, saya harus berhenti meratap dan menatap ke depan saja. jangan terlalu banyak menjelaskan, malah bikin hati jadi sesak. 

saya kira dia benar. 

mungkin setelah ini saya akan mulai belajar lagi. saya harus punya sertifikasi lain. ya, kalaupun saya ngga ngajar di sini, saya mungkin akan coba ngajar di luar negeri? who knows kan ya? :)

jadi mungkin, akan ada beberapa sertifikasi yang saya ikuti: online teaching (?), bahasa inggris tentu saja, dan research methode. entah saya benci sekali dengan angka-angka metodologi tapi itu justru membuat saya tertantang. 


well, apapun itu mari saling mendoakan dalam kebaikan :) 


semoga hidup kita semua membaik :)


PS: SAYA TIDAK MENYESAL SAMA SEKALI MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK RESIGN. NO SINGLE REGRET AT ALL :)

Thursday, 22 January 2026

harapan-harapan yang muncul setelah resign

setiap pagi saya masih bingung membiasakan diri dengan tiadanya rutinitas. gampangnya mungkin ini disebut dengan post power syndrome mungkin ya. 

kuasa-kuasa yang pernah kita miliki, sekarang tidak lagi. 

ada perasaan kosong. ada perasaan sedih. ada perasaan menyesal. ada perasaan apa ngga sia-sia sekolah 4 tahunku?

tapi,

kalau boleh jujur, hidup saya lebih tentram sekarang. situasi rumah membaik. saya justru merasa lebih bisa berkontribusi pada rumah tangga. ada hal-hal yang tidak dulu tidak bisa saya lakukan tapi sekarang saya bisa melakukannya. mendukung suami saya, terutama. 

di titik ini, saya bangga mengambil keputusan untuk resign. 

.

tapi bicara tentang sekolah yang sia-sia, iya, memang rasanya sia-sia sekali saya sekolah tinggi sampai S3 tapi ngga jadi apa-apa istilahnya ya. hanya, entah kenapa, entah firasat, entah kesombongan, entah karena saya punya kepercayaan mutlak pada Hidup, saya percaya hidup saya tidak akan berhenti di sini. 

mungkin, akan sulit bagi saya menjadi dosen (kembali). di Indonesia. 

tapi Gusti Allah ngga menciptakan dunia isinya Indonesia saja kan, dengan peraturannya yang ya.. 

.

saya masih berharap saya bisa menjadi dosen lagi, bisa ngajar dan meneliti lagi (hal-hal yang paling saya sukai). 

ya, saya sepertinya akan fokus di sana. mencari lowongan sebagai remote lecturer, adjunct professor, atau mungkin saya bisa kontak editor jurnal siapa tahu di kampusnya lagi butuh dosen remote, kan?

.

terdengar muluk-muluk.

.

tapi ngga ada yang tau kan?

.

semoga, tidak butuh lama bagi saya untuk menyematkan afiliasi asing di bawah nama saya. aamin.