Monday, 9 March 2026

Life aftet resign: the coward phase

Hari ini semuanya buruk. Kelabu. Saya tidak ada energi positif sama sekali. 

Kepala saya dipenuhi pertanyaan: bagaimana jika, bagaimana jika, bagaimana nanti. 

Tiba² saja saya jadi pengecut. Saya takut luar biasa hari ini. Saya takut memikirkan masa depan. Takut bagaimana dengan pendidikan anak². Takut bagaimana jika nanti saya tidak segera dapat pekerjaan. Bagaimana dengan masa tua kami. Apa yang akan saya lakukan. Bagaimana anak².

Saya benci sekali perasaan seperti ini. Saya ingin selalu sombong yang sepadan dengan percaya dengan Hidup dengan Gusti Allah. Seperti ini rasanya seperti saya meremehkan Tuhan sekali. Rasanya hidup saya sudah berhenti. 

Benci sekali dengan perasaan: harusnya dulu saya sabar ya. Harusnya dulu saya terima saja ya kontrak itu. Harusnya saya ngga bikin masalah ya. 

Arggghhhh

Saya lupa kalau saya benci panasnya surabaya, saya lupa saya benci tergopoh² saat pagi, saya lupa saya benci melihat wajah suami saya yang lagi² harus berkorban namun dia tetap tersenyum dan bilang: ngga papa, saya benci dengan pekerjaan lama yang meremehkan saya sekali, saya benci saya tidak diberi kesempatan, saya benci saya dipojokkan, saya benci status saya tidak berubah menjadi aktif, saya benci naik trans jatim, saya benci macet, saya benci naik gojek kemproh, saya benci pandangan mengasihani karena saya lusuh. 


Saya hanya harus ingat semua kebencian itu

0 comments:

Post a Comment