Sunday, 17 October 2021

Semoga tak dimulai lagi

Hai apa kabar?

Lama tak menulis di sini. 

Awalnya saya pikir, saya memang bisa menulis. Nyatanya, saya menulis karena saya sedih, saya tertekan, dan saya sedang mengalami banyak emosi negatif; sehingga saya perlu menyalurkan energi saya.

Lama tak menulis di sini.

Hidup saya sedang baik baik saja. Tak seperti kemarin kemarin.

Baru sadar ternyata kapan lalu saya memang depresi. Bukan karena kondisi eksternal. Tapi dari dalam diri saya sendiri. Semacam PPD yang amat sangat panjang dan tidak berkesudahan.

Eh tapi yang sekarang juga bukan yang baik baik banget begitu sih. Ya hidup sedang baik. Hati saya sedang baik. Kadang masih emosi tapi bisa dikendalikan.

Lalu bagaimana bisa saya 'sembuh'

Ngobrol sama pasangan. Sesuatu yang mudah tapi ya sulit.

Lagi, karena mengakui kekurangan diri, mengakui kalau kita sakit dan kita minta diberi perhatian lebih dan kita minta bantuan, itu tidak mudah.

Tapi ya akhirnya terlampaui. 


Lalu, apa yang kurang sekarang?

Tidak ada.

Saya hanya sedang berada pada pertarungan konstan dengan diri saya sendiri. Seperti biasa.
Seperti tidak bisa mencintai diri sendiri seutuhnya. Seperti terlalu banyak tuntutan untuk diri sendiri. Seperti tak berterima kasih kepada diri sendiri.

Tuh. Mulai lagi, kan.


Wednesday, 14 July 2021

mundur ke masa lalu

Semalam saya minum obat lagi supaya bisa tidur nyenyak. Saya nangis parah semalam. Saya bahkan hampir chat psikiater di halodoc tapi bodohnya malah saya batalkan.

Saya tahu saya tidak baik baik saja. Saya ambil tes online untuk diagnosa dini depresi dan hasilnya ya memang demikian. 

Rasanya menyedihkan mengetahui diri kita sendiri sakit itu. Rasanya menyedihkan sekali. 

Apalagi ketika tahu bahwa tidak ada yang salah dengan lingkungan sekeliling kita. Semua baik dan normal. Yang tidak normal adalah diri saya. Dan itu malah bikin sedih sebenarnya.

Dulu saya pun pernah seperti ini. Tapi mungkin karena saya belum berkeluarga jadi ya saya bisa melampiaskan semuanya sendirian.

Dulu saya nonton HIMYM dan itu menyembuhkan saya. Saya olahraga tiap pagi. Sepedaan pancal keliling Kertajaya bahkan saat hujan seperti orang gila. Yang akhirnya harus saya hentikan karena saya dibuntuti laki laki 'gila' juga. Horor banget dunia untuk perempuan. Kami tidak menggangu siapapun, tapi lihat balasan dunia. Saya masak. Saya bertarung tiap hari.



Ya 


Saya sudah pernah melaluinya. Semoga kali ini saya pun bisa melaluinya pula.

.

Sekarang mungkin saya hanya perlu meyakinkan diri saya sendiri kalau :

Apa yang saya alami bukan salah saya. Saya sakit. Dan itu wajar. Dan itu tidak apa apa. Dan bahkan saat sakit pun saya masih bisa waras. Saya masih bisa mengurus anak. Saya tidak melakukan kekerasan walaupun dorongan dalam diri saya begitu besar untuk melakukan itu cukup besar.

Saya tahu saya sakit. Dan saya tahu saya sudah cukup berjuang untuk melawannya. 

Jika satu hari saya tidak kuat melawan sakit saya, mungkin saya hanya sedang lelah. 

Tidak apa. Kita bisa mulai lagi dari awal. 

Tidak apa.






depresi

Saya tidak tahu apakah depresi saat wfh itu nyata atau tidak. 

Tapi jujur, setahun lebih wfh rasanya saya gila. 

Kepala saya penuh. Semuanya berantakan. Semuanya salah.

Saya tidak suka bertemu manusia. Tapi satu tahun lebih benar benar terputus ternyata membuat saya betulan gila.

Saya pikir saya lelah. Lelah sekali. Lelah sangat. 

Saya benci diri saya sendiri.


Saya dulu bisa bangun jam 3 pagi. Bersemangat mengerjakan apapun. Bisa masak, bisa atur apapun. Dan sekarang rasanya saya useless. Ngga berguna. 

Kaya bahkan kerjaan kecil saja tidak sanggup saya kerjakan.

Saya sudah gila sungguh. 



Tuesday, 13 July 2021

tentang pattern

Saya selalu berpikir hidup adalah tentang pola pola tertentu yang harus dibentuk atau dibiasakan. Saya hidup dengan cara ini. Selama ini.

Saya berpikir bahwa jika ada hal yang baru maka saya harus berupaya menyesuaikan dengan pola polanya, merombak pola yang lama, atau membuat pola baru. Yang mana itu susah.

Saya adalah manusia statis. Saya hidup berdasar standar yang ada di kepala saya. Termasuk standar kejadian kejadian yang mungkin terjadi dalam hidup.

Saya pikir semakin tua semakin kita bisa memprediksi pola.


Nyatanya saya salah sepertinya. Pola yang muncul semakin tidak beraturan dan acak. Kepala saya tidak mampu menampungnya sebenarnya. Saya lelah belajar menyesuaikan dan salah. 

Lelah sekali. Kepala saya sakit setiap hari.


Anyway saya meng uninstall aplikasi Twitter dan Instagram. Saya lelah dengan berita berita yang berseliweran. Saya muak melihat penguasa wakanda yang seperti sampah. Saya benci wabah ini. Benci sekali. Saya juga benci dengan negara wakanda dan kebijakannya yang benar benar sampah.

Saya tahu saya mengulang kata sampah berulang-ulang.



Semoga kepala saya bisa lebih tenang. Semoga hati saya bisa lebih tenang.  


tentang menerima

Ada banyak hal yang mengecewakan, saya tahu. Banyak hal tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan dan saya harapkan. Walaupun saya tahu saya sudah mempersiapkan yang terbaik untuk semuanya.


Ternyata formula di masa lalu memang ampuh : Ya sudahlah. Lupakan saja.

Thursday, 1 July 2021

Setelah Usai

 jadi, tiba-tiba persyaratan beasiswa usai begitu saja. hahaha..

beasiswa ini benar-benar mengajarkan saya tentang sabar dan ga perlu terlalu ngoyo. sudahlah, saya siapin semua h-150 berharap saya bisa menyelesaikan di awal, tapi nyatanya ya nggak.

mulai urusan toefl yang sempat penuh drama. perkara LOA yang ternyata ngga langsung dikasi kaya kampus2 lain. perkara approval beasiswa kampus, yang surprisingly adalah proses paling lama yang harus saya tempuh. saya pikir padahal ini bakalan bentar, tapi nyatanya ya butuh berbulan-bulan. hahaha..

sudah?

belum dong. perkara rekomendasi akademisi. saya sempat wa profesor kesayangan saya untuk meminta rekomendasi, saat awal-awal mendaftar, dan beliau sudah setuju. namun, say atidak bisa maju karena ya saya belum dapat approval kampus. ibu profesor ini juga orang njabat di kampus, tahu status saya, jadi saya tahu diri lah, wong kampus belum nyetujui kok minta2 rekoemndasi. iya kalo disetujui, kalo nggak?

akhirnya, setelah approval turun, ya namanya nasib ya, profesor yang saya gadang buat kasi rekomendasi, beliau terkonfirmasi positif covid. saya udah kaya yang hehehehe ini nasib lucu amat yak. namun alhamdulillah ibu professor ternyata speed recovery, alhamdulillah sekali. karena di satu saya juga sayang sama ibu profesor ini karena beliau buaik luar biasa ndak pernah jelek2in orang sama sekali. di sisi lain, alhamdulillah saya bisa dapet rekomendasi.

drama selanjutnya adalah rekomendasi lldikti. karena hehehehe.. nyatanya butuh waktu 7 hari untuk bisa dapat rekomendasinya. saya kirim email tanggal 23 juni dan dapat suratnya tanggal 30 juni, tanggal penutupan pendaftaran beasiswa. bukan salah lldikti-nya. salah saya yang terlalu mepet ngirimnya. 

dan akhirnya drama korea beasiswa usai sudah. hahahahaha

beneran, saya cuman bisa tertawa melihat proses yang kaya guyon ini. tapi ya sudahlah alhamdulillah, sudah selesai ini. semoga hasilnya nanti juga bisa bawa senyum lebar bahagia untuk saya. tapi apapun itu saya sudah siap kok. termasuk siap kirim wa ke ibu profesor ngabarin kalau-kalau misalnya saya ngga lolos beasiswa dan berencana melanjutkan hidup yang biasa biasa saja. hahaha

tapi ya semoga lolos sik. saya sudah tua ini. kalau ngga sekolah sekarang, mau kapan lagi.

.

lalu setelah perjuangan beasiswa usai, sebenarnya saya pengen kasih kado ke diri saya sendiri.

kado sederhana yang sulit banget.

TIDUR LAMA DAN NYENYAK TANPA MIMPI.

berminggu-minggu saya beneran tidak bisa tidur nyenyak. saya sakit beberapa minggu lalu. lumayan lama dan sangat mengganggu. 

benernya pengen beli obat tidur, tapi kok ya kaya orang depresi parah seperti masa lalu saja ~

.

lalu saat ini sebenarnya saya sedang meracau. saya ada kerjaan yang harus saya lakukan tapi saya males mengerjakannya. pengen sambat di twitter tapi kok sudah kebanyakan sambat. dari tadi cuman tiduran mainan twitter, instagram, ganti twitter sampe elek. tapi ya tep ngga ada keinginan untuk mengerjakan tugas. saya cuman males aja dan tdk termotivasi.


.


saya sudah bikin kopi. semoga setelah ini semangat lagi. 


Monday, 7 June 2021

Kita sedang balas dendam, namun salah sasaran

 beberapa waktu lalu, di tengah ruwetnya kepala, saya membuat coretan di kertas. saya tuangkan banyak hal di sana. kenapaa saya begini, apa yang saya rasakan, apa yang saya inginkan, dan lainnya. setelahnya saya merasa sedikit membaik namun tidak sepenuhnya. 

pagi tadi, saya bangun dengan perasaan dongkol luar biasa sebenarnya. hati saya masih tidak rela. saya tahu beasiswa adalah pelampiasan. jika saya lolos, at least itu akan sedikit menghibur hati dan hidup saya yang seolah hancur di mana-mana (padahal ndak sih. haha). tapi kepastian approval yang tidak kunjung datang benar-benar membuat mood saya jelek belakangan ini. 

sambil memasak, mendengar spotify, saya merenung sedikit. apakah benar kekacauan yang saya buat, perilaku saya yang sebenarnya tidak bisa dimaafkan (oleh saya sendiri) adalah murni kesalahan saya? 

nyatanya setelah saya merunutnya, toh ternyata tidak. semua ini hanya akumulasi. ada kejadian-kejadian di masa lalu yang mungkin membuat kita jengkel, jengah, jembek, atau apapun itu. namun kita tak punya kekuasaan atau kewenangan di dalamnya. akhirnya cuman bisa mbatin. 

mbatin berkepanjangan ini akhirnya mengejawantah ke pikiran. saya ndak mau diperlakukan seperti ini. saya maunya seperti ini, ini dan ini. saya ndak terima diperlakukan seperti ini, ini dan ini. 

lama kelamaan dia mengendap. menjadi dendam yang tak kentara. lalu kemudian diri kita membangun pertahanan diri. membangun perlengkapan perang siapa tahu musuh datang menyerang kapan saja.

sayang, upaya itu kadang tak dibarengi ilmu. alih-alih menyerang musuh, malah menyerang diri sendiri. malah menyalahkan diri sendiri.


intinya,


jika saat ini anda sedang benci pada diri anda (seperti saya sekarang), jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. itu hanya akumulasi. itu hanya balas dendam yang salah sasaran. kasihani diri anda. jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.

Thursday, 27 May 2021

Tentang menyerah dan sudahlah -

kemarin saya ngamuk-ngamuk di twitter. pasalnya permohonan beasiswa saya yang sudah sebulan lalu itu tak kunjung di approve yayasan. entah apa alasannya.

alasan saya ngamuk :

1. usia. perempuan selalu punya angka yang jadi pertimbangan utama. tahun ini  saya 35 tahun sudah. artinya, kalau saya lancar sekolahnya bisa lulus di usia 39 saat anak saya baru awal masuk SD. saya pikir saya bisa melakukan banyak hal untuk persiapan sekolah anak saya. saya masih punya 1 mimpi (obsesi tepatnya) anak saya harus sekolah tinggi dan mendapatkan pendidikan terbaik. pun, hitungannya, jika saya harus mengabdi di suatu tempat di Surabaya, hitungannya pengabdian akan berakhir saat usia 47 tahun. setelah itu saya pengen hidup damai di kota asal saya saja. jadi dosen di sana. saya pikir gelar yang lebih panjang akan memberi kesempatan yang lebih luas, termasuk dealing gaji untuk univ di kota ini.

2. saya sudah siap. toefl siap. proposal siap, walaupun harus diperbaiki sana sini.

3. saya sedang mood. alasan utamanya ini sih.


tapi kemudian hari ini, ketika saya ngampus, ketemu bph yayasan, mereka bilang bahwa surat saya masih diproses dan kemungkinan jawabannya minggu depan. tadi sempat ditegaskan juga bahwa nantinya jika approval muncul, artinya saya diberi ijin atau tugas belajar istilahnya yang artinya saya dapat privilege ndak masuk kerja sesuai ketentuan karena sedang kuliah.


sampai sini saya mak dheg!


oke. kayaknya negatif ini mah. yayasan sepertinya tidak akan membiarkan pegawainya ijin belajar lagi karena yang kemarin2 juga banyak yang belum lulus.


nasib saya saja sepertinya yang kurang mujur :)


tapi entahlah, saya rasanya seperti ya sudahlah ya. kalaupun dipending tahun ini, semoga tahun depan saya punya semangat yang sama untuk mengejar beasiswa :) semoga tahun depan saya punya lebih banyak publikasi yang mendukung proposal desertasi saya :) semoga tahun depan kondisi finansial dan psikologis lebih tenang dan terarah..


ya sudahlah. hari ini saya ikhlas sudah.


saya mau melanjutkan hidup saya lagi -  

Sunday, 16 May 2021

perjalanan abu-abu

hari-hari saya sebenarnya sedang dipenuhi kegelisahan mengenai statuts beasiswa. entah saya bisa lanjut atau tidak. 

maksud saya adalah, jika saya sudah mendapatkan kejelasan dari kampus, saya bisa move ke hal lain yang harus saya lakukan -walaupun sekarang juga harusnya bisa sih


entahlah, perasaan saya tidak menentu soal ini. 


kampus memang sedang ada perubahan besar. saya paham itu. saya paham saya mengajukan beasiswa ini bukan dalam waktu yang tepat. 


dan jujur, saya sebenarnya cenderung sudah negatif saja sih. ya walaupun eman. 



- atau mungkin saya nyerah saja. anggap saja tidak ada. mungkin itu lebih baik.

Tuesday, 27 April 2021

Tentang jalan panjang menuju nama yang lebih panjang

 tidak pernah ada beasiswa yang mudah. saya paham itu. termausk beasiswa S2 saya dulu juga dapatnya susah. mempertahankannya susah. pas sudah kuliah juga susah.

beasiswa s3 yang sedang saya perjuangkan sekarang pun demikian. bukan sesuatu yang sat set jadi, tapi sejauh ini masih bisa diupayakan. entah bagaimana hasilnya nanti.

jadi, saya mulai semuanya dengan bergabung dalam grup telegram LPDP DN. jujur di sana banyak orang baik. mereka benar-benar sabar menjawab pertanyaan sama berulang-ulang dan kadang pertanyaan konyol yang tidak perlu diutarakan. 

dari pelajaran gagal mendapat beasiswa BPPDN 2 tahun lalu, saya belajar banyak. persiapan adalah segalanya. kalau BPPDN dulu gagalnya adalah di surat rekomendasi. yang tidak ditandatangani karena kelalaian salah satu staf meminta tanda tangan :') 

tapi bukan. itu kelalaian saya. salah saya kenapa saya ga kroscek tiap hari menanyakan status berkas saya.

sebentar, sebelum cerita tentang LPDP saya mau cerita dulu kenapa saya akhirnya mendaftar di sini. 

jadi sebenarnya saya berminat untuk mencari beasiswa di luar negeri sebenarnya. di Norway tepatnya. saya pengen sekali sekolah di sana. browsing sekolah, browsing calon profesor, sampai kemungkinan disertasi apa yang sekiranya menarik pun sudah saya buat. 

tapi kemudian, orang tua saya melarang. dengan alasan jarak yang terlalu jauh, kemungkinan-kemungkinan negatif yang mungkin muncul, ya akhirnya say amanut sajalah daripada kebanyakan drama.

pilihan saya kemudian jatuh ke LPDP yang kemudian membawa saya ke grup telegram itu.

lalu setelah saya mempelajari pattern-nya bisa diambil kesimpulan bahwa yang paling penting adalah TOEFL dan LoA. jadi itu yang saya upayakan pertama.

TOEFL nekat saja ambil tes online yang diadakan salah satu kampus negeri di Surabaya. sempat banyak drama tapi ya sudahlah. alhamdulillah yang penting nilai sudah memenuhi ambang batas. Insya Allah dipakai ke luar negeri pun sebenarnya bisa juga. 

TOEFL done.

perjalanan selanjutnya adalah menemukan kampus yang mau menerima saya. kalau skema LPDP memang kita harus pinter-pinter lihat kemungkinan tanggal dan jadwal. susah lo cari perguruan yang cocok dengan tenggat waktu yang diusulkan pemberi beasiswa :')

saya yang memang sudah mengincar kampus di Surabaya, sudah riset dan catet tanggal-tanggal penting pelaksanaan. dan kebetulan ada jalur portofolio pun yang artinya saya bisa bebas tes asal saya punya artikel yang yerindeks internasional atau nasional. alhamdulillah ada dan kemudian dinyatakan lulus.

tapi apakah perjuangan selesai? tidak ferguso :')

saya harus registrasi, mendapat LoA yang merupakan syarat mutlak LPDP.

dan ternyata proses buat dapat LoA lumayan juga sih :')

tepat saat tanggal saya harus registrasi anak saya sakit. udah ndak ngurus apapunlah soal sekolah lagi. lalu ketika anak saya berangsur membaik, saya tahu tanggal registrasi sudah lewat. :')

saya mencoba menghubungi kampus dari berbagai sumber. tapi tak ada satupun jawaban. akhirnya hari ini saya memutuskan ke kampus. mencari kejelasan. namun ternyata saya diarahkan untuk mengirimkan email saja untuk LoA ini.

per siang ini email sudah saya kirim. WA juga sudah saya kirim. tapi masih belum ada reply.

semoga segera ada kabar baik :')


btw nanti saya mau update lagi perjalanan saya tentang ini :) mungkin say abisa cerita, kenapa sih perempuan harus susah-susah s3? bahasan basi feminis sebenarnya :D