Thursday, 27 May 2021

Tentang menyerah dan sudahlah -

kemarin saya ngamuk-ngamuk di twitter. pasalnya permohonan beasiswa saya yang sudah sebulan lalu itu tak kunjung di approve yayasan. entah apa alasannya.

alasan saya ngamuk :

1. usia. perempuan selalu punya angka yang jadi pertimbangan utama. tahun ini  saya 35 tahun sudah. artinya, kalau saya lancar sekolahnya bisa lulus di usia 39 saat anak saya baru awal masuk SD. saya pikir saya bisa melakukan banyak hal untuk persiapan sekolah anak saya. saya masih punya 1 mimpi (obsesi tepatnya) anak saya harus sekolah tinggi dan mendapatkan pendidikan terbaik. pun, hitungannya, jika saya harus mengabdi di suatu tempat di Surabaya, hitungannya pengabdian akan berakhir saat usia 47 tahun. setelah itu saya pengen hidup damai di kota asal saya saja. jadi dosen di sana. saya pikir gelar yang lebih panjang akan memberi kesempatan yang lebih luas, termasuk dealing gaji untuk univ di kota ini.

2. saya sudah siap. toefl siap. proposal siap, walaupun harus diperbaiki sana sini.

3. saya sedang mood. alasan utamanya ini sih.


tapi kemudian hari ini, ketika saya ngampus, ketemu bph yayasan, mereka bilang bahwa surat saya masih diproses dan kemungkinan jawabannya minggu depan. tadi sempat ditegaskan juga bahwa nantinya jika approval muncul, artinya saya diberi ijin atau tugas belajar istilahnya yang artinya saya dapat privilege ndak masuk kerja sesuai ketentuan karena sedang kuliah.


sampai sini saya mak dheg!


oke. kayaknya negatif ini mah. yayasan sepertinya tidak akan membiarkan pegawainya ijin belajar lagi karena yang kemarin2 juga banyak yang belum lulus.


nasib saya saja sepertinya yang kurang mujur :)


tapi entahlah, saya rasanya seperti ya sudahlah ya. kalaupun dipending tahun ini, semoga tahun depan saya punya semangat yang sama untuk mengejar beasiswa :) semoga tahun depan saya punya lebih banyak publikasi yang mendukung proposal desertasi saya :) semoga tahun depan kondisi finansial dan psikologis lebih tenang dan terarah..


ya sudahlah. hari ini saya ikhlas sudah.


saya mau melanjutkan hidup saya lagi -  

Sunday, 16 May 2021

perjalanan abu-abu

hari-hari saya sebenarnya sedang dipenuhi kegelisahan mengenai statuts beasiswa. entah saya bisa lanjut atau tidak. 

maksud saya adalah, jika saya sudah mendapatkan kejelasan dari kampus, saya bisa move ke hal lain yang harus saya lakukan -walaupun sekarang juga harusnya bisa sih


entahlah, perasaan saya tidak menentu soal ini. 


kampus memang sedang ada perubahan besar. saya paham itu. saya paham saya mengajukan beasiswa ini bukan dalam waktu yang tepat. 


dan jujur, saya sebenarnya cenderung sudah negatif saja sih. ya walaupun eman. 



- atau mungkin saya nyerah saja. anggap saja tidak ada. mungkin itu lebih baik.

Tuesday, 27 April 2021

Tentang jalan panjang menuju nama yang lebih panjang

 tidak pernah ada beasiswa yang mudah. saya paham itu. termausk beasiswa S2 saya dulu juga dapatnya susah. mempertahankannya susah. pas sudah kuliah juga susah.

beasiswa s3 yang sedang saya perjuangkan sekarang pun demikian. bukan sesuatu yang sat set jadi, tapi sejauh ini masih bisa diupayakan. entah bagaimana hasilnya nanti.

jadi, saya mulai semuanya dengan bergabung dalam grup telegram LPDP DN. jujur di sana banyak orang baik. mereka benar-benar sabar menjawab pertanyaan sama berulang-ulang dan kadang pertanyaan konyol yang tidak perlu diutarakan. 

dari pelajaran gagal mendapat beasiswa BPPDN 2 tahun lalu, saya belajar banyak. persiapan adalah segalanya. kalau BPPDN dulu gagalnya adalah di surat rekomendasi. yang tidak ditandatangani karena kelalaian salah satu staf meminta tanda tangan :') 

tapi bukan. itu kelalaian saya. salah saya kenapa saya ga kroscek tiap hari menanyakan status berkas saya.

sebentar, sebelum cerita tentang LPDP saya mau cerita dulu kenapa saya akhirnya mendaftar di sini. 

jadi sebenarnya saya berminat untuk mencari beasiswa di luar negeri sebenarnya. di Norway tepatnya. saya pengen sekali sekolah di sana. browsing sekolah, browsing calon profesor, sampai kemungkinan disertasi apa yang sekiranya menarik pun sudah saya buat. 

tapi kemudian, orang tua saya melarang. dengan alasan jarak yang terlalu jauh, kemungkinan-kemungkinan negatif yang mungkin muncul, ya akhirnya say amanut sajalah daripada kebanyakan drama.

pilihan saya kemudian jatuh ke LPDP yang kemudian membawa saya ke grup telegram itu.

lalu setelah saya mempelajari pattern-nya bisa diambil kesimpulan bahwa yang paling penting adalah TOEFL dan LoA. jadi itu yang saya upayakan pertama.

TOEFL nekat saja ambil tes online yang diadakan salah satu kampus negeri di Surabaya. sempat banyak drama tapi ya sudahlah. alhamdulillah yang penting nilai sudah memenuhi ambang batas. Insya Allah dipakai ke luar negeri pun sebenarnya bisa juga. 

TOEFL done.

perjalanan selanjutnya adalah menemukan kampus yang mau menerima saya. kalau skema LPDP memang kita harus pinter-pinter lihat kemungkinan tanggal dan jadwal. susah lo cari perguruan yang cocok dengan tenggat waktu yang diusulkan pemberi beasiswa :')

saya yang memang sudah mengincar kampus di Surabaya, sudah riset dan catet tanggal-tanggal penting pelaksanaan. dan kebetulan ada jalur portofolio pun yang artinya saya bisa bebas tes asal saya punya artikel yang yerindeks internasional atau nasional. alhamdulillah ada dan kemudian dinyatakan lulus.

tapi apakah perjuangan selesai? tidak ferguso :')

saya harus registrasi, mendapat LoA yang merupakan syarat mutlak LPDP.

dan ternyata proses buat dapat LoA lumayan juga sih :')

tepat saat tanggal saya harus registrasi anak saya sakit. udah ndak ngurus apapunlah soal sekolah lagi. lalu ketika anak saya berangsur membaik, saya tahu tanggal registrasi sudah lewat. :')

saya mencoba menghubungi kampus dari berbagai sumber. tapi tak ada satupun jawaban. akhirnya hari ini saya memutuskan ke kampus. mencari kejelasan. namun ternyata saya diarahkan untuk mengirimkan email saja untuk LoA ini.

per siang ini email sudah saya kirim. WA juga sudah saya kirim. tapi masih belum ada reply.

semoga segera ada kabar baik :')


btw nanti saya mau update lagi perjalanan saya tentang ini :) mungkin say abisa cerita, kenapa sih perempuan harus susah-susah s3? bahasan basi feminis sebenarnya :D

Thursday, 15 April 2021

KOPER PSIKIS

Saya tiba pada fase dimana saya merasa perlu untuk mencari pertolongan profesional :(

jujur, saya merasa ada yang kurang pada diri saya. ada sesuatu yang selalu dan selalu tidak cukup. ada banyak hal yang menurut saya kendalinya ada pada diri saya dan saya harus bisa menyelesaikannya dengan sempurna. 

hampir tiap hari saya ingin menangis. dan kadang tiba-tiba saja. seperti merasa lelah yang teramat sangat padahal semua baik-baik saja. tidak ada satupun yang kurang. tapi saya selalu merasa tidak cukup. saya selalu merasa tidak cukup.

.

tadi di kereta saya membaca artikel mengenai self blame. saya lupa detailnya bagaimana tapi ada salah satu kalimat yang menunjukkan bahwa orang-orang yang cenderung self blaming adalah orang dengan koper psikis yang cukup berat. dan saya pikir punya saya juga begitu. 

.

fafa masih sakit. dia tidak mau berjalan. dokter bilang itu karena infeksi virusnya masih ada. sementara kami semua melihat dia sudah sangat ceria sekali sehingga bahkan saya pun menyangkal jika dia sedang sakit. jauh di dalam diri saya, saya pengen memaksanya agar mau berjalan kembali. dia pun punya satu kebiasaan buruk yang menurut saya membahayakan. walaupun bukan pada level yang berbahaya sekali ya. dan saya merasa sayalah sebabnya. saya tidak bisa menjadi ibu yang baik. saya adalah sumber utama itu semua. :')

.

situasi masih seperti ini. saya sungguh ingin mencari bantuan profesional. atau mungkin ada buku yang bisa saya baca?


Wednesday, 14 April 2021

INSECURE

 Hai hai. apa kabar? 

lama sekali pengen nulis di sini tapi belum sempat juga. anak saya barusan sakit dan itu benar-menguras emosi dan tenaga. rasanya sudah habis diri kita kalau anak sakit mah :( dia masih belum pulih benar hingga hari ini, semoga segera membaik. 

lalu ada apa dengan insekuritas?

jadi beberapa waktu lalu kan saya sempat beberapa kali menulis tentang ppd dan betapa saya sangat insecure sekali terhadap diri saya. ya hampir 3 tahun sih. 

tapi kemudian sekelebat lewat di ig feed, seorang teman yang saya kagumi ketika kuliah, ternyata dia bilang dia insecure juga. dia bilang dirinya adalah ugly duck, dan saya seperti : he? perempuan secantik itu bilang ugly duck?? lah saya apa?

perempuan teman saya ini adalah bayangan perempuan ideal dalam mata saya. cantik, pinter, pinter banget malah, feminis asli (bukan feminis asal njeplak kaya saya dan orang2 di twitter. dia paham sejarah feminis dan macem2nya), pinter masak, pinter moto, body goals banget. 

dan dia insecure :')

lalu sempat juga melihat salah satu model. dia bilang dia sempat hiatus setahun karena insecure juga dengan bentuk tubuhnya. padahal dia model lho! dia bilang dia selalu merasa kurang kurus dan selalu takut ditinggalkan oleh industri model. hidupnya hanya berkutat tentang angka dan angka timbangan. padahal dia punya tubuh yang sempurnya :')

dia insecure :')

sampai sini saya sampai pada satu kesimpulan. sebenarnya semua perempuan punya insekuritasnya sendiri. hanya saja ada yang levelnya tinggi ada yang rendah. ada yang ditunjukkan ada yang tidak. mau sesempurna apapun hidupnya, pasti ada hal yang membuat dia insecure.

lalu

manusia kadang begitu. sedihnya sedikit hilang ketika tahu ada orang lain yang merasa hal yang sama. 

at least merasa bahwa kita tidak insecure sendirian itu sedikit melegakan.

lalu kemudian kabar itu datang. saya akhirnya dinyatakan diterima S3 walaupun ini baru awal banget sih :) saya masih harus menunggu pengumuman LPDP atau beasiswa pendidik lainnya :) semoga segera ada. dan semoga di Unair bisa defer ya. dan semoga saya lolos seleksi beasiswa itu :) tapi sepertinya jika saya tidak lolos, kalau pas syaraf kenekatan saya muncul, saya mungkin akan nekat begadang semalam dan bikin proposal disertasi kemudian apply ke luar tanpa mengindahkan resikonya :') semoga ini tidak terjadi. 

anyway, soal rencana studi akan saya tulis lengkap nanti jika pengumuman beasiswanya sudah keluar. semoga segera.

lalu, kabar bahwa saya diterima tsb sedikit banyak membuat awan hitam di kepala saya hilang. saya merasa, paling tidak ada sedikit hal yang bisa saya banggakan sendiri atas diri saya. selama ini saya selalu merasa buruk. merasa menjadi ibuyang buruk, istri yang buruk, perempuan yang buruk. dan kabar diterima tadi sedikit banyak menghibur saya. 

ah, saya ndak jelek-jelek amat ternyata :')

kembali ke bahasan awal tentang insekuritas.

mungkin ya..

mungkin kunci insekuritas adalah dengan menemukan satu hal yang paling tidak bisa kita banggakan dari diri kita. paling tidak hal itu bisa menutupi ketidakmampuan kita. dan mungkin kunci utamanya adalah ya dengan menyadari kalau kita manusia. kalau sempurna ya jadi malaikat saja. menyadari kalau memang mungkin kita ngga sebaik orang lain yang mampu mengatur waktunya dengan baik, ndak sebaik orang lain yang mampu menjadi ibu yang sabar yang selalu bisa membuat makanan yang menyenangkan untuk anak-anaknya. menyadari kalau ya manusia juga akan kehilangan kilau masa mudanya. menyadari kalau ya masing-masing punya prioritas yang berbeda yang tentunya nanti akan berdampak pada hasil hidup yang berbeda pula. 

ya walaupun kalimat-kalimat pada paragraf sebelumnya adalah hal yang berat tentu saja. itu bukan seuatu yang datang seminggu dua minggu. tapi menyadari kelemahan, menerimanya, adalah pekerjaan seumur hidup yang harus dilakukan.


Sunday, 28 March 2021

Flash back

saya barusan menjalani wawancara untuk S3. masih ndredeg. nanti saya akan bercerita tentang alur upaya saya untuk sekolah lagi.

nah, kebetulan, tadi pas wawancara, ibu pewawancara-nya sedikit bertanya mengenai aktivitas dan kegiatan masa lalu. pas juga beberapa waktu lalu kepikiran, saya 10 tahun lalu ngapain saja ya. jadi, mari kita sedikit flashback, siapa tahu ternyata kita sudah melalui banyak hal, hanya saja kita kurang berterima kasih ke diri kita 💓

2011 : kerja di merpat*. pengalaman kerja ke-dua. masuk sebagai pegawai outsouce. gaji kecil banget. selain karena perusahaan ga punya kewajiban kepada karyawan (kewajiban dialihkan ke si perusahaan outsource-nya), juga karena nilai kontrak perusahaan induk dan perusahaan outsource yang dikasih ke karyawan adalah jumlah yang telah dipotong tentunya. 

waktu itu kalau dipikir, gaji mah ga bakal bisa buat hidup, apalagi saya ngekos. tapi nyatanya ya cukup2 saja. makan siang sering dibeliin pegawai merpat* yang memang baik-baik semua. belum lagi kalau ada customer, entertain customer, kadang bancaan. intinya alhamdulillah saya ngga pernah kekurangan, walaupun kalau dipikir secara matematika ya ngga nutut 😊 

waktu kerja di sini juga saya akhirnya memberanikan diri daftar S2 lewat jalur beasiswa. dapat rekomendasi dari bapak atasan yang nampaknya ngaruh banget. dan alhamdulillah diterima. tapi akhirnya harus resign juga karena pernah dijanjikan akan ada tes pegawai tetap namun tidak pernah ada. bahkan setelah 1 tahun bekerja, gaji yang sudah sedikit itu pun dipotong. apalagi ditambah saya kuliah lagi yang artinya butuh tambahan dana kan😥 kadang kalau ingat masa-masa itu nelongso banget. hahaha  

2012 : kerja di merat*s. salah satu shipping line terbesar di Indonesia. nah, gara2 baca trit tentang kasus evergreen di terusan Suez kemarin yang bikin saya pengen flashback. ehhe..

kerja di sini enak. bicara gaji sih itungannya so so ya. ya karena posisi saya juga cuman staff biasa. tapi bicara tunjangan, jujur ini kantor yang paling "kantor" menurut saya. hahaha. 

cuanggih banget menurut saya. 9 tahun lalu, ruangan2 di merat*s semua sudah pakai lampu otomatis yang bisa mendeteksi gerakan. kalau ngga ada orang akan otomatis padam, dan nyala ketika ada orang. zaman ketika video conference baru sebatas skype yang ngga semua pakai itu, di sana rapat-rapat dengan cabang lain sudah pake v-con yang mana menurut saya waktu itu keren banget. jadi bisa hemat budget bepergian. masuk ruangan juga pakai ID akses yang tidak semua memilikinya. beneran mirip kantor-kantor di drama korea pokoknya. terus yang kerja di sana juga semuanya cantik-cantik, rapi-rapi. pakai baju yang bener-bener office look, high heel, yang laki juga rapi-rapi semua. keren banget pokoknya. juarang sekali ditemui karyawan dengan look seadanya. semua macak. dan saya menyukainya 😁   

lalu soal tunjangan, wihhh bangettt. terutama tunjangan kesehatan yang ngga nanggung-nanggung. dikasi asuransi paling oke. soal itu menyenangkan pokoknya.

tapi akhirnya resign karena drama kantor yang hadeh banget. kadang kalau keinget itu, suka heran sama diri saya sendiri. kok bisa saya tahan di sana sampai hampir 4 tahun. kategori hubungan yang cukup lama menurut saya. 

tapi ya, terlepas dari drama kantor, ketidakdewasaan saya saat bekerja di sana, ketidakprofesionalan saya, intrik politik kantor yang luar biasa, ya dengan bekerja di sana toh akhirnya saya bisa lulus S2. saya bisa punya uang saku saat kampus mengadakan acara ke luar negeri, bisa beli tiket PP, bisa njajan dan ndak terkatung2 di LN ya gara-gara saya bekerja di sana. bisa lulus walaupun dengan perjuangan luar biasa, ya gara-gara saya kerja di sana. kalau kerja di tempat lain belum tentu juga kan saya bisa melakukan dan melaluinya 😊

2013 : masih kerja di merat*s. masih kuliah. kenal laki-laki yang kerja di sana juga. lulusan U*M, kendaraan bagus, wajah lumayan. bahkan rekan kerja bilang : kalau kamu sama dia, yakin orang tuamu bakalan setuju banget. tapi belakangan saya paham, justru orang itu adalah orang toxic dan manipulatif pertama yang saya temui. saya sempat stress dan merasa ndak worth banget ya karena si orang ini benar-benar manipulatif. untunglah bisa lepas dari jeratannya. dulu bisa jalan sama dia sih, ya karena omongan orang sih. background-nya itu yang membuat semua orang percaya bahwa lulusan kampus baik ya pasti baik. 

at least saya belajar, nomor satu attitude, dan itu yang ingin saya ajarkan ke anak saya nanti. saya juga pengen kasih tahu anak saya bagaimana manipulative person bekerja. duh, kalau inget orang ini, berasa pengen getok saja kepalanya 😠 

ah ya, di tahun ini saya akhirnya lulus S2. yeayy 💪💞

2014 : masih di mera**s dengan intrik dan tekanan yang semakin menggila. kemudian di tahun ini, inget banget seseorang yang mengenalkan saya pada dunia blog datang. I fell to him since the first time I saw him. it was 2009. 5 tahun kemudian datang. seolah memberi harapan ya. saya yang memang dari awal suka sama dia, ya kepincut lah ya. tapi dengan alasan kita beda organisasi keagamaan, kita pisah 😂😂😂😂😅😅😅😆😆😆😆

ah ya, pernahkah anda mendengar pisah hanya karena beda ormas keagamaan? 😅 well, saya contoh nyatanya. kita sempat dekat hanya sekitar 4 atau 5 bulan. tanpa aba-aba, dia bilang dia dijodohkan orang tuanya, kemudian lamaran dan menikah beberapa saat setelah saya ulang tahun. hadiah yang indah. 

jujur itu adalah tahun terburuk saya. saya benar-benar jatuh. damage-nya luar biasa sih 😅 butuh 2 tahun lebih untuk memperbaikinya. 

saya tidak tahu jika dia masih datang ke sini atau tidak. tapi terakhir saya stalk sosmed-nya, saya merasa dia tidak hidup di jalan yang semestinya. sepertinya dia sedang menghukum diri sendiri, entah atas apa. ya well, kalau kamu sedang membaca ini sekarang, ayo berubah! kamu menyedihkan dengan terus menunjukkan keburukan yang seperti itu! kamu bisa lebih baik dari ini! 

ndak malu ta sama saya? i can even stood higher now! 

2015 : mulai double job. ngajar part time dan masih di kerjaan lama. tahun ini masih sama seperti tahun sebelumnya. I was hopeless. untuk tidur pun saya harus dibantu antimo tiap malanya. tiap hari jalan-jalan ke Delta atau Royal biar saya ndak gila di kosan melamun sendirian. 

di tahun ini saya dekat lagi dengan orang kantor. it was all good and fine. sampai akhirnya saya tahu ternyata dia sudah menikah dan sudah punya anak. saya ndak mau disalahkan tentu saja, wong HRD kantor saja ngga tau statusnya, apalagi saya. 

he finally divorced. dan syukurlah (?) saya bukan penyebab utamanya. saya cuman kerikil kecil dalam hidupnya yang kebetulan dipungut gitu aja. ya paling tidak ketika saya mengetahui bahwa kedekatan itu bukan penyebab utama pisahnya dia dengan istrinya, itu mengurangi sedikit rasa bersalah saya. meskipun sampai sekarang saya masih merasa berdosa sekali. ini adalah satu-satunya masa dimana saya ingin kembali ke masa lalu dan berharap tidak ada tahun ini.

berpisah dengan ex di tahun 2014 masih jauh lebih baik daripada peristiwa di tahun ini.

2016 : resmi resign dari shipping line. resmi ngajar sebagai dosen tetap. resmi berpisah dengan si teman kantor. 

inget banget, susah sekali waktu itu adaptasi di kampus. secara saya kan pegawai baru ya di sana. ndak ada orang yang tahu riwayat seberapa jatuh bangunnya saya 2 tahun terakhir. bahkan ada 1 dosen laki-laki yang bilang saya gila, hanya karena saya ngga bisa ikut-ikutan dengan gang mereka. karena waktu itu saya masih sibuk nangis tiap pagi malam, minum antimo, mendengar lagu-lagu kencang. saya tidak bisa menerima orang lain. 

dan proses adaptasi was suck!

tahun yang sama bulan oktober saya ketemu suami untuk ke-dua kalinya. ketemu pertama saat Maret 2016. saat pertemuan pertama itupun kami bahkan tidak saling berjabat tangan, seolah ya, "ahelah, siapa sih kamu. kamu ngga bakal ada dalam list saya". -___-"  

ketemu kedua saat kelas inspirasi akan dilakukan bulan November. rapat sebelum kelas dimulai adalah di bulan Oktober. 

and he was the game changer

dia adalah orang yang membuat saya percaya bahwa orang yang selaras antara kata dan perbuatannya itu ada. dia orang yang membuat saya percaya bahwa orang baik itu ada. dia orang yang mengembalikan self worth saya. memperlakukan saya dengan sebaik-baiknya. memanggil saya dengan panggilan sebaik-baiknya. 

he was my life savior

2017 : menikah dan langsung hamil. proses kehamilan bukan proses yang mudah untuk saya. tapi ternyata ini baru awal

2018 : punya anak. saya mendiagnosa diri saya sendiri ppd. sering nangis sendiri. merasa ngga berguna. merasa jadi jelek. merasa berbeda dengan saya yang lalu. I hate my self.

2019 : masih berjuang dengan hal yang sama di tahun sebelumnya. PPD is real. karena itu, jangan pernah remehin ibu-ibu yang baru melahirkan ya :')

beberapa beruntung tidak mengalaminya. beberapa harus berjuang bertahun-tahun untuk bisa kembali :')

2020 : masih berjuang untuk hal yang sama :')

2021 : nekat memutuskan untuk sekolah lagi. entah bagaimana cara dan ceritanya nanti. 

masih berjuang dengan ppd :') salah satunya dengan menulis ini. untuk mengetahui saya sudah melalui banyak hal. dan itu bukan hal yang mudah. saya sedang melaluinya. mungkin yang paling penting bukanlah titik akhir apakah ppd ini akan hilang dan saya bisa mendapatkan self worth dari diri saya lagi atau tidak. 

tapi dengan menulis apa yang terjadi 10 tahun terakhir, bisa jadi akhirnya saya paham bahwa saya ndak seperti orang lain, tapi diri saya sudah melakukan banyak hal untuk diri saya sendiri. dan itu selalu yang terbaik. dan saya adalah yang terbaik untuk diri saya sendiri. apapun itu :)


I love me :)    


btw ini tadi posting tentang flashback kan? 😂😂😂😂😂

  

Tuesday, 23 March 2021

MENCINTAI DIRI SENDIRI

ada yang susah mencintai dirinya sendiri?

ada yang gampang banget nemuin kekurangan diri dan terus nyalahin diri sendiri?

✋

yap. saya adalah orang itu.

entah kenapa saya hobi sekali menyalahkan diri sendiri. 


apalagi sejak melahirkan. duh. semuanya ngga ada yang benar.

badan saya yang terlalu gemuk beberapa waktu lalu adalah badan saya yang kurus saat ini. muka saya yang ngga ada bedanya beberapa waktu lalu adalah muka impian saya saat ini. kemampuan saya menghadapi banyak hal (yang sempat saya nilai sebagai ketidakmampuan juga) di waktu lalu, adalah keunggulan yang saya impikan saat ini. 

jika dipikir, semua tentang saya adalah salah. di masa lalu, masa sekarang, dan mungkin masa depan juga.


berkali-kali saya mencari artikel di pinterest tentang mencintai diri sendiri, tapi toh saya ndak nemu yang bisa nyes di hati dan pikiran.

berkali-kali saya mengingatkan diri sendiri bahwa cinta itu datangnya inside lalu outside. tapi teori akan selalu seperti itu kan? mudah diucap, susah dilakukan.


pada akhirnya ya akan selalu sama. berakhir dengan self talk : sudahlah, you did good. you did well. jangan ngebandingin diri dengan orang lain, nanti cape.


ya bakal ingat sih satu dua hari. tapi setelah itu ya ga suka lagi dengan diri sendiri. 


anyway, punya rekomendasi buku bagus yang bisa saya baca?

Thursday, 25 February 2021

kangen kampus

saya sedang kangen kampus. 

kangen mahasiswa yang kadang menyebalkan. 

kangen kasak-kasuk antar bilik yang memisahkan kami. kangen rasan-rasan. 

kangen naik gojek dari wonokromo ke nginden yang macet naudzubillah. 

kangen naik bangunkarta sore-sore dan negrasa jadi sultan. 

kangen kerja nagdep laptop, pasang headset, menteleng layar seolah jadi manusia paling sibuk sedunia padahal aslinya twitteran. 

kangen pake blazer. 

kangen pake heels. 

kangen ambience kampus. 

kangen jalan pake bunyi cetak cetok dari sepatu. 

kangen make-up-an di kampus. 

kangen rumpiin skin care terbaru. 

.

btw saya kemarin sempat cerita di twitter tentang on the way to airport. yang ternyata main lead si perempuan akhirnya resign dari kerjaannya sebagai pramugari.

saya sempat kepikiran melakukan hal yang sama ketika nanti dihadapkan pada situasi yang sama.

tapi mengingat perasaan saya hari ini, dan bagaimana bekerja bagi sebagian orang ternyata punya arti cukup besar selain nyari duit doang, 

kayaknya saya bakalan terus bekerja sampai nanti-nanti. entah dengan penyesuaian seperti apa, tapi nampaknya saya akan dan harus terus bekerja.

saya ngga bisa kalau ngga bekerja. 

Wednesday, 24 February 2021

Menjadi diri sendiri

 hola! apa kabar? semoga selalu sehat ya!


rasanya sudah lama saya tidak menjejakkan tangan di sini. kangen juga sih. yap, terakhir adalah ketika saya ikut lomba BI kemarin. bikin tulisan berdasarkan challenge.


seru juga. walaupun aga kecewa sih karena kalah. hihihi.


tapi tentu ini ta apa.


jadi kemarin ketika ikut lomba BI sempat ada review tentang blog. dan si reviewer bilang kalau beberapa blog terlalu hiperbolis, karena terlalu banyak "aku" di dalamnya. dan, ndak semua orang nyaman dengan itu.


ya saya ngerasalah!


sempat mangkel sih. tapi yasudahlah. 


ya memang tujuan orang ngeblog kan sendiri-sendiri. kalau saya, ya saya ngeblog karena saya belum selesai dengan diri saya sendiri dan nampaknya tidak akan selesai.


saya masih akan menulis apa yang ingin saya tulis. saya masih akan meracau. sesekali saya akan mensitasi beberapa penelitian. sesekali saya mungkin akan kembali mellow di sini.


entah kenapa saya kok mangkel. hahaha. 


karena bagi saya blog itu personal ya sifatnya, bagaimanapun. kalau ndak pengen jadi personal ya bikin portal berita saja.  


anyway, kemarin saya akhirnya ikut tes TOEFL ITP. nilai saya alhamdulillah. lumayan baiklah ya. 


satu wishlist sudah tercentang.


semoga wishlist  dapat beasiswa dan sekolah S3 bisa segera tercentang juga. amin! 👌😊 

This entry was posted in

Tuesday, 2 February 2021

Takut - Climbing inside fear




fear
/ˈfir/
noun
  1. an unpleasant emotion caused by the belief that someone or something is dangerous, likely to cause pain, or a threat.


Anda pernah ngga memiliki tugas, yang entah kenapa, males sekali untuk diselesaikan?

rasanya seolah kita selalu punya alasan untuk mengabaikannya. walaupun kita tahu itu penting.

saya ada. ada 3 tugas dari kampus yang entah, setiap kali membuka foldernya, dada saya rasanya bergemuruh dan pengen segera menutup folder tersebut.

satu waktu saya pikir saya hanya malas. namun kemudian, saya menemukan, bahwa ternyata saya takut. saya takut dengan tugas itu. saya takut saya tidak bisa mengerjakan dengan baik, saya takut salah, saya takut dianggap bodoh, saya takut menemui kenyataan bahwa saya tidak mampu. 

iya, ternyata rasa takut itu yang selama ini menghantui saya dan membuat saya selalu menemukan alasan untuk tidak mengerjakannya.


hmm...


menulis ini ternyata tidak bikin lega.  


seperti biasa, melihat pendapat para ahli sepertinya akan menyenangkan. so, here we go.


saya menemukan satu artikel yang berjudul "Expectancy model of fear, anxiety and panic" yang ditulis oleh Reiss S (1991). Selanjutnya kita sebut saja beliau dengan Pak Reiss.

Jadi nampaknya Pak Reiss ini adalah akademisi untuk bidang psikologi yang banyak meneliti mengenai rasa takut dan kecemasan. artikel yang saya rujuk di atas adalah rangkuman atas penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Pak Reiss. btw, artikelnya bagus. saya akan coba summarize model yang diusulkan oleh Pak Reiss ini.

1. Rasa takut secara parsial atau keseluruhan didorong munculnya oleh harapan serta sensitivitas terhadap kecemasan (saya baru tahu ternyata ada angka index untuk mengukur kecemasan yang disebut dengan index sensitivitas terhadap kecemasan) : ini bener banget ya. rasa takut saya memang didorong atau diakibatkan oleh harapan atas hasil ketika saya melakukan tugas-tugas tadi. mungkin bukan harapan ya kata yang tepat, tapi ekpekstasi atau pandangan saya atas sesuatu yang muncul ketika saya melakukan tugas-tugas tadi. saya takut salah, takut dicap ngga bisa, takut dibandingin dengan junior lain. itu adalah ekspektasi negatif saya...

Pak Reiss, njenengan daebak!

2. sensitivitas terhadap kecemasan bersifat sangat individu dan bisa diukur dengan sensitivity index. nah, ini harusnya bahasan bagus sih tentang index sensitivitas atas kecemasan. tapi berhubung artikelnya ndak ada gambar-gambar yang merangkum bagaimana index sensitivitas kecemasan (saya belum membaca sama sekali ya tentang ini) tsb, jadilah saya skip. pan kapan kalau ngga lupa, mari kita cari tahu sama-sama apa itu index sensitivitas kecemasan

3. Orang dengan tingkat kecemasan yang tinggi memiliki rasa takut yang lebih banyak terhadap objek atau situasi yang berbeda. jadi intinya, semakin mudah anda merasa cemas terhadap sesuatu itu artinya anda punya rasa takut yang banyak atas macam-macam objek dan kondisi atau situasi. 

nah, iya ini bener sih. makanya ada orang yang kayaknya santai banget, ya mungkin bisa jadi dia ndak punya rasa takut, atau dia hanya memiliki rasa takut terhadap sedikit hal saja.

lha kalo saya 😐 jangan ditanya lah. mungkin itu sebabnya kenapa saya gampang ndredeg, hiperhidrosis, rasa takut saya terlalu banyak. dan porsi terbesarnya adalah rasa takut pada komentar netijen. duhkah! ndak penting banget kan 😐

saya tidak paham apakah yang saya lakukan ini adalah self diagnose yang sebenarnya tidak dianjurkan. tapi kadang dengan mengilmiahkan apa yang terjadi pada kita, itu membuat kita merasa lebih baik.   


source :

Reiss, S. (1991). Expectancy model of fear, anxiety, and panic. Clinical Psychology Review, 11(2), 141–153. doi:10.1016/0272-7358(91)90092-9